Citizen Reporter

Menikmati Ragam Budaya Indonesia di Gedung UNESCO, 125 Avenue de Suffren Paris

Sekitar 800 pengunjung memenuhi gedung UNESCO di 125 Avenue de Suffren, Paris. Pengujung bukan hanya warga Indonesia yang tinggal di Paris, melainkan

Menikmati Ragam Budaya Indonesia di Gedung UNESCO, 125 Avenue de Suffren Paris
ist/citizen reporter
Penampilan budaya Indonesia di Gedung UNESCO di 125 Avenue de Suffren, Paris 

SURYA.co.id - Sekitar 800 pengunjung memenuhi gedung UNESCO di 125 Avenue de Suffren, Paris. Pengujung bukan hanya warga Indonesia yang tinggal di Paris, melainkan juga warga Prancis. Mereka hadir untuk menyaksikan pertunjukan Presenting Indonesian Heritage to The World, Kamis (19/9/2019).

Acara yang dibuka Duta Besar Indonesia untuk Prancis, Arrmanatha Christiawan Nasir dan Director of the Divison of National Commission and Civil Society from UNESCO, Mr Genc Seiti. Acara itu menghadirkan kekayaan budaya Indonesia.

Penonton diajak melalang buana, dari Jawa, Bali, Lombok, hingga Sumatra Barat. Perjalanan dimulai dengan slide keindahan Borobudur dan alam Pulau Jawa. Ke-15 pemain gamelan dari asosiasi Pantcha Indra yang mayoritas penabuh gamelan dan sindennya adalah warga Prancis, mengiringi kegemulaian empat penari Srimpi Sangupati, tarian Jawa klasik dari keraton sejak abad ke-18.

Penampilan budaya Indonesia di Gedung UNESCO di 125 Avenue de Suffren, Paris
Penampilan budaya Indonesia di Gedung UNESCO di 125 Avenue de Suffren, Paris (ist/citizen reporter)

Tarian itu menggambarkan empat elemen, yaitu grama (api), angin, toya (air), dan bumi. Gerakan yang lambat dan gemulai mengajak penonton memaknai tarian itu tentang pengekangan diri dan perjuangan batin.

Dari JawaTengah, penonton diajak menikmati keindahan Sumatra Barat. Grupseni Gastarana dari Sumatra Barat, tampil dengan empat musisi, para penari, dan pembaca pantun.

Grup tari itu membawakan Tari Rantak. Rantak terinsipirasi dari gerakan bela diri pencak silat. Gerakan tarian itu menggambarkan kekuatan dan keberanian dari Suku Minangkabau. Tarian Rantak sering ditarikan setelah masa panen yang bervariasi dengan tarian yang lain untuk memohon turunnya hujan.

Selain Rantak, tampil pula tarian Tigo Sapilin. Itu merupakan kombinasi dari Tari Randai dan Tari Piring, tarian khas dari Minang.

Tampilan tarian itu adalah kombinasi dari bernyanyi, menari, dan berpantun. Itu menggambarkan begitu kuatnya ikatan kekeluargaan dalam sebuah desa sebagai komunitas martilinial terbesar di dunia dengan kekayaan, nama keluarga, dan tanah warisan dari ibu ke anak.

Tigo Sapilin ditarikan untuk merayakan akan peran utama wanita dan ibu di Suku Minang. Tepukan meriah menggema di gedung pertunjukan ketika Tari Randai dengan gerakan yang awalnya lambat, lambat laun menjadi gerakan yang dinamik, mengikuti kecepatan irama instrumen musik. Itu mengakhiri perjalanan di Sumatra Barat.

Kembali penonton diajak untuk menikmati keindahan dua tempat yang menjadi Cagar Biosfer UNESCO, yaitu Nusa Tenggara Barat.

Halaman
12
Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Adrianus Adhi
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved