Citizen Reporter

Siswa SMA St Louis 2 Surabaya Berlatih Cara Mengatasi Kondisi Darurat di Luar Rumah Sakit

dosen Fakultas Keperawatan Univeritas Katolik Widya Mandala Surabaya berbagi pengetahuan dan keterampilan mengatasi kegawatdaruratan kepada

Siswa SMA St Louis 2 Surabaya Berlatih Cara Mengatasi Kondisi Darurat di Luar Rumah Sakit
ist/citizen reporter
Seorang siswi Kader Kesehatan dan PMR SMA St Louis 2 Surabaya sedang belajar memberikan pertolongan pertama 

SURYA.co.id - MT Arie Lilyana dan Kristina Pae, dosen Fakultas Keperawatan Univeritas Katolik Widya Mandala Surabaya berbagi pengetahuan dan keterampilan mengatasi kegawatdaruratan pada Kader Kesehatan dan PMR SMA St Louis 2 Surabaya.

Mereka membuat Pelatihan Pertolongan Pertama Pada Korban Kegawatdaruratan di luar rumah sakit yang diadakan Sabtu (31/8/2019).

“Selain mengenali serta mengatasi bila terjadi kegawatdaruratan, pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi siswa agar lebih peduli terhadap sesama,” kata Caecilia Tjahjanti, Pembina Kader Kesehatan Sekolah.

Ada lima bahasan yang disajikan, yaitu penanganan korban pingsan, keracunan makanan, tersedak, gigitan binatang, dan bantuan hidup dasar.

Arie menjelaskan, pingsan merupakan kehilangan kesadaran sesaat karena aliran darah ke otak untuk sementara berkurang.

“Lakukan pernapasan dalam dan relaksasi untuk menghindari pingsan. Namun, jika korban sudah kehilangan kesadaran maka jauhkan dari keramaian, berikan udara segar, longgarkan pakaian terutama pada leher dan pinggang. Posisikan korban dan segera hubungi bantuan medis,” katanya.

Jika korban tersedak, Kristina menyarankan untuk segera mencari bantuan medis. Sambil menunggu bantuan medis, letakkan kepalan tangan pada posisi dua jari di atas pusar, kemudian pegang kepalan tangan dengan tangan satunya sambil membungkuk pada permukaan yang keras lalu dorong kepalan tangan ke dalam dan atas hingga benda asing keluar.

Bila ada kejadian korban gigitan binatang terutama ular berbisa, Kristina menjelaskan supaya menenangkan korban. Kurangi gerak supaya bisa ular tidak menyebar melalui aliran darah.

“Ketika membaringkan korban, posisi luka gigitan harus lebih rendah dari jantung. Jangan mengikat area tubuh tertentu pada korban, juga jangan minum apalagi kopi atau yang beralkohol karena akan mempercepat penyebaran bisa. Ingat, warna dan bentuk ular untuk membantu perawatanberikutnya dan segera dibawa ke pusat layanan medis,” tuturnya.

Yang tidak kalah penting adalah ketika menghadapi korban henti jantung atau henti napas. Kristina menunjukkan pertolongan itu dengan mengenali henti jantung atau henti napas.

“Buka dan bebaskan jalan napas, berikan bantuan napas dan mempertahankan sirkulasi darah. Panggil tim medik dan lakukan kompresi jantung dan napas buatan sampai tim medik datang,” paparnya.

Anggota PMR SMA St Louis 2 Surabaya mencatat semua materi. Mereka juga mempraktikkan pertolongan pertama itu.

“Setelah mengikuti pelatihan, semoga saya bisa membantu orang lain,” kata Christian Valentino Sigalingging, anggota PMR SMA St Louis 2.

Justinus Ristanto
Guru di SMA St Louis 2 Surabaya
justinuspknstlouis2@gmail.com

Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Adrianus Adhi
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved