Citizen Reporter

Pelatihan Membuat Cindera Mata Logam Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi

Tim LP2M Universitas Jember bekerja sama dengan mitra pengabdian Sanggar Tari Sayu Sarinah di Olehsari, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi

Pelatihan Membuat Cindera Mata Logam Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi
ist/citizen reporter
Tim LP2M berfoto bersama dengan anggota sanggar 

SURYA.co.id - Berkembangnya pariwisata di Kabupaten Banyuwangi perlu didukung oleh industri kreatif. Cendera mata dibutuhkan sebagai penguat pengembangan pariwisata itu.

Itu sebabnya, Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Jember bekerja sama dengan mitra pengabdian Sanggar Tari Sayu Sarinah di Olehsari, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, menyelenggarakan pelatihan pembuatan cendera mata berbahan logam. Pelatihan itu didanai oleh DRPM Kemenristekdikti.

Tim yang terdiri atas Novi Anoegrajekti, Asrumi, dan Sudartomo Macaryus memberikan pelatihan yang diselenggarakan di pendapa Sanggar Tari Sayu Sarinah sejak 21 Juli 2019 dan berlanjut pada 18 Agustus 2019 dengan materi pembuatan master.

Pembuatan suvenir berbahan logam memiliki potensi pasar yang cukup baik. Itu berdasarkan penuturan pengelola sanggar yang mengatakan, saat menerima tamu yang hendak mendaki Gunung Ijen, sebagian menginginkan suvenir yang dapat berfungsi sebagai aksesori jam atau sebagai hiasan dinding.

Sugiyanto, fasilitator pelatihan menyampaikan, sebagai praktisi dan produsen cendera mata berbahan logam, ia sudah sering mengikuti pameran produk industri kreatif. Ia melayani pesanan dari berbagai lembaga.

“Saya ingin mengembangkan usaha dengan mendirikan studio dan outlet untuk memasarkan produk industri suvenir logam,” katanya.

Pelatihan diikuti sepuluh peserta dari Desa Olehsari. Rekrutmen peserta dan fasilitator dilakukan oleh mitra pengabdian, yaitu Supinah sebagai peminpin Sanggar Tari Sayu Sarinah dan Sugiyanto yang sudah memiliki beberapa model dan mendapat pesanan dari kafe, rumah makan, hotel, resto, dan beberapa usaha bisnis lainnya.

Peserta berlatih membentuk motif, membuat master, dan menyelesaikan bagian akhir dengan membingkai kriya logam yang telah sesuai dengan motif yang dikehendaki. Mereka membuat motif penari gandrung yang mengenakan omprok.

Diperlukan teknik pemukulan yang sesuai supaya hasilnya bagus. Itu berarti pemukulan harus sesuai sasaran atau fokus bagian yang dipukul, menjaga kekuatan dan cara memukul, serta penonjolan bagian yang sesuai dengan motif master.

Upaya menyatukan kegiatan budaya dalam satu wadah Majestic Banyuwangi Festival 2019, yang semula bernama Calendar Banyuwangi Festival, terbukti mampu meningkatkan jumlah wisatawan yang hadir dalam setiap peristiwa budaya. Hadirnya wisatawan dalam jumlah besar itu menjadi ruang sosialisasi, promosi, dan pemasaran produk industri kreatif termasuk cendera mata.

Peluang pemasaran itu juga didukung jumlah tamu yang transit di Sanggar Tari Sayu Sarinah. Selain itu, Sugiyanto bersedia mengikutsertakan hasil pelatihan itu dalam pameran yang sering diikuti. Itu membangun kerja sama antara sanggar, masyarakat, dan pelaku usaha.

Novi Anoegrajekti
Dosen di Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Jember
novi.anoegrajekti@gmail.com

Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Adrianus Adhi
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved