Advertorial

Pemkot Surabaya Sebut PLTSa Thermal TPA Benowo 97% Selesai, Desember 2019 Diresmikan Presiden Jokowi

Mengonversi sampah menjadi listrik sudah dilakoni Pemkot Surabaya sejak tahun 2015 melalui Pembangkit Listrik Tenaga Sampah atau PLTSa Benowo

Pemkot Surabaya Sebut PLTSa Thermal TPA Benowo 97% Selesai, Desember 2019 Diresmikan Presiden Jokowi
ist
Pembangunan gasifikasi power plant PLTSa Benowo. 

SURYA.co.id - Mengonversi sampah menjadi listrik sudah dilakoni Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya sejak tahun 2015 melalui Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Benowo, yang terletak di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo. PLTSa yang sudah mengirimkan listrik pada PT PLN sejak empat tahun lalu tersebut memiliki satu pembangkit yang sudah beroperasi yakni landfill gas (LFG), dan satu lagi yang masih dalam tahap pembangunan yaitu thermal.

Plt Kepala Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH), Eri Cahyadi, menjelaskan bahwa seluruh sampah yang digunakan sebagai bahan bakar PLTSa adalah hasil sampah warga Kota Surabaya, baik organik maupun anorganik.

"Prosesnya itu sampahnya dari warga diangkut ke TPS. Nah, sampah tersebut ada yang melewati proses daur ulang DKRTH, seperti di Jambangan dan Jemursari, sehingga sampah menjadi kompos. Sampah yang tidak tertarik, dibuang ke TPA Benowo," jelas Eri.

Untuk PLTSa thermal, Eri menyebut proyek tersebut sudah selesai 97 persen, sehingga Desember 2019 bisa diresmikan oleh Presiden Joko Widodo.

Kepala Bidang Sarana Prasarana DKRTH, Iman Rachmadi, menambahkan kehadiran PLTSa Benowo ini penting untuk mengolah sampah.

Apalagi, PTSa thermal menurutnya bisa membakar sampah sekitar 1.000 ton per hari.

"Kalau itu bisa dilakukan (membakar 1.000 ton sehari), kan TPA jadi lebih awet, sampah tidak menumpuk," imbuh Iman.

Pekerja memeriksa mesin PLTSa Benowo atau pembangkit listrik tenaga sampah yang mengubah sampah menjadi listrik dari gas metana di area TPA Benowo Surabaya, Senin (16/9/2019). Di area yang sama, Pemkot Surabaya kini mempersiapkan PLTSa yang mengkonversi sampah menjadi listrik dari thermal atau uap panas pembakaran sampah yang biasa disebut sebagai landfill gas (LFG)
Pekerja memeriksa mesin PLTSa Benowo atau pembangkit listrik tenaga sampah yang mengubah sampah menjadi listrik dari gas metana di area TPA Benowo Surabaya, Senin (16/9/2019). Di area yang sama, Pemkot Surabaya kini mempersiapkan PLTSa yang mengkonversi sampah menjadi listrik dari thermal atau uap panas pembakaran sampah yang biasa disebut sebagai landfill gas (LFG) (surya/habibur rohman)

Ide PLTSa thermal rupanya datang dari pemkot sendiri, yang ingin meniru negara-negara maju yang telah menerapkan konversi sampah menjadi listrik lewat thermal.

Penanggung Jawab Operasional TPA Benowo dari PT Sumber Organik, Mohammad Ali Asyhar, menerangkan PLTSa LFG bisa menghasilkan listrik sebesar 1,65 megawatt, sedangkan thermal 9 megawatt.

Perbedaan LFG dan thermal adalah, LFG memanfaatkan gas hasil sampah menjadi listrik, sedangkan thermal memanfaatkan uap panas pembakaran sampah.

PLTSa Benowo, Senin (16/9/2019). Pemkot Surabaya kini mempersiapkan PLTSa yang mengonversi sampah menjadi listrik dari thermal atau uap panas pembakaran sampah yang biasa disebut sebagai landfill gas (LFG)
PLTSa Benowo, Senin (16/9/2019). Pemkot Surabaya kini mempersiapkan PLTSa yang mengonversi sampah menjadi listrik dari thermal atau uap panas pembakaran sampah yang biasa disebut sebagai landfill gas (LFG) (surya/habibur rohman)
Halaman
12
Penulis: Delya Octovie
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved