Citizen Reporter

Mahasiswa UNAIR Memberdayakan Anggota PMR SMAN 2 Lamongan Sebagai Pendidik Sebaya

Mahasiswa Unair membuat sebuah kegiatan pengabdian kepada masyarakat di SMA Negeri 2 Lamongan. memberdayakan para anggota PMR sebagai peer educator

Mahasiswa UNAIR Memberdayakan Anggota PMR SMAN 2 Lamongan Sebagai Pendidik Sebaya
ist/Citizen Reporter
Suasana pembekalan anggota PMR menjadi peer educator (pendidik sebaya). 

SURYA.co.id - Kesuksesan pencegahan anemia di kalangan remaja putri masih butuh perhatian. Potensi sumber daya yang ada di lingkungan sekolah seperti PMR dapat menjadi salah satu solusi.

Sejak 2014, pemerintah telah mencanangkan program suplementasi Tablet Tambah Darah (TTD) untuk remaja putri yang sasaran utamanya adalah para siswi SMP dan SMA atau sederajat.

Akan tetapi, TTD yang diharapkan menjadi solusi permasalahan ini ternyata memiliki daya terima yang rendah.

Penelitian di berbagai wilayah di Indonesia mengindikasikan rendahnya tingkat konsumsi TTD di kalangan remaja putri. Beberapa alasan pun bermunculan sebagai penyebab mereka tidak suka mengonsumsi TTD.

Kesuksesan program TTD tidak hanya bergantung pada ketersediaan TTD. Namun, peran pihak sekolah juga memegang kendali besar dalam tercegahnya kejadian kurang darah di antara para remaja putri.

Melihat fenomena itu, Thinni Nurul Rochmah dan tim dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (Unair) membuat sebuah kegiatan pengabdian kepada masyarakat di SMA Negeri 2 Lamongan, Rabu (11/9/2019). Fokus utamanya untuk memberdayakan para anggota PMR sebagai peer educator (pendidik sebaya).

Salah satu pemateri dalam acara itu Trias Mahmudiono. Ia menjelaskan, edukator sebaya memiliki kedekatan emosional dengan sesama siswi sehingga mereka diharapkan mampu memotivasi pelajar putri untuk mengonsumsi TTD.

Para anggota PMR akan memberikan edukasi atau konseling kepada teman-teman mereka berkait dengan pentingnya mengonsumsi TTD dan makanan tinggi zat besi seperti hati, telur, dan ikan.

Kegiatan peer education dilakukan dengan membentuk satu kelompok kecil dengan satu orang sebagai peer educator yang akan menyampaikan informasi tentang anemia.

Selain itu, peer educator juga berperan sebagai fasilitator yang akan membantu mencari alternatif solusi jika ada teman mereka yang enggan mengonsumsi TTD atau mengalami masalah anemia.

Dalam melakukan konseling kepada teman sebaya, seorang peer educator menerapkan metode motivational interviewing, yaitu suatu pendekatan yang menitikberatkan kemampuan fasilitator untuk mendengar dan memahami masalah klien.

Setelah itu, bersama-sama dengan klien menemukan alternatif solusi atas permasalahan yang dialami. Dengan metode peer education ini diharapkan motivasi para remaja putri dalam mengonsumsi TTD meningkat dan tujuan program suplementasi TTD untuk mencegah anemia tercapai.

Susi Hidayah
Program Studi S1 Gizi
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga
susi.hidayah-2015@fkm.unair.ac.id

Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Adrianus Adhi
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved