Cetizen Reporter

Mengenal Tari Muang Sangkal dari Madura

Tari Muang Sangkal memiliki sejarah yang menarik. Tari itu harus dibawakan oleh penari yang berjumlah ganjil, penari harus perempuan dan tidak sedang

Mengenal Tari Muang Sangkal dari Madura
ist/citizen reporter
Tari Muang Sangkal 

SURYA.co.id - Suara rancak musik tradisional membuat banyak pengunjung di lokasi car free day Taman Paseban, Bangkalan, menoleh.

Para mahasiswa yang bergabung dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kesenian Abstra dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya, Universitas Trunojoyo Madura (UTM) membuat pengunjung terkesima, Minggu (15/9/2019).

Mereka menarikan tari massal Muang Sangkal. Aksi mereka bertujuan mengajak pengunjung Taman Paseban mengetahui budaya khas dari Madura sekaligus untuk mengapresiasi dan menghormati pencipta dari tarian itu, yaitu Taufikurrachman, yang wafat beberapa bulan yang lalu.

Para pengunjung, tidak mengenal usia, ikut meramaikan dan mengapresiasi tarian Muang Sangkal. Banyak dari mereka yang tertarik dengan tarian yang dibawakan dan tidak sedikit dari mereka mengambil foto dan video ketika para mahasiswa menari.

Tarian itu disiapkan oleh 20 mahasiswa. Mereka sangat gigih berlatih tarian khusus dari Madura itu, meskipun tidak sedikit dari mereka yang baru pertama membawakan tarian itu.

Della, salah satu penari mengakui, gerakannya agak rumit. “Ini tarian sakral dan gerakannya harus sesuai dengan pakem. Akan tetapi, dari situ saya ingin mencoba mempelajari lagi tarian ini. Ini juga salah satu cara mengenang Pak Taufiqurrahman yang sudah menciptakan tarian Muang Sangkal,” ujar Della yang berasal dari Blora.

Fitri, mahasiswa asal Gresik juga tertarik belajar menarikan Muang Sangkal. Awalnya ia ingin mengetahui tarian dari Madura.

“Saya memang suka menari. Saya penasaran dengan tarian Muang Sangkal yang belum pernah saya pelajari,” kata Fitri.

Sebagian dari penari juga mengungkapkan alasan mereka mengikuti acara ini salah satunya untuk melestarikan serta mempelajari budaya khas. Daenah, salah satu penari dari Galis, Madura, senang melihat teman-temannya dari luar Madura ikut bersemangat belajar menari.

“Saya mengikuti acara ini untuk bertemu dengan orang yang berminat dalam tari dan ingin melestarikannya, serta mempelajari lebih mengenai gerakan tarian Muang Sangkal ini,” ujarnya.

Para penari bahagia dan bangga karena bisa menampilkan salah satu budaya dari daerah Madura. Mereka ingin melestarikan budaya Indonesia, salah satunya dengan cara menarikan Muang Sangkal.

Usai menari, mereka tidak bisa menahan haru ketika para penonton memberi apresiasi dengan bertepuk tangan meriah. Itu bentuk penghargaan terhaadp tradisi yang dilestarikan anak-anak muda.

Tari Muang Sangkal memiliki sejarah yang menarik. Tari itu harus dibawakan oleh penari yang berjumlah ganjil, penari harus perempuan dan tidak sedang menstruasi.

Tarian itu dianggap sebagai tarian yang sakral dan memiliki beberapa peraturan atau syarat yang harus dipenuhi para penari. Tarian Muang Sangkal menggunakan kostum dan atribut khusus seperti membawa sebuah pot atau wadah kecil yang berisi beras kuning. Saat tampil di car free day Taman Paseban, mereka tidak membawa seluruh atribut yang biasa dikenakan saat pentas khusus.

Lum’atul Fitriyah
Mahasiswa Sastra Inggris
Universitas Trunojoyo Madura
lumatulfitriyah29@gmail.com

Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Adrianus Adhi
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved