Mahasiswa Turun ke Jalan

Aksi Mahasiswa di Jember Kritik Rezim Orba 4.0

Ribuan mahasiswa di Jember turun ke jalan. Dalam aksi itu mereka memakai tajuk 'Menanggapi Orba 4.0, Mari Kuliah di Jalan 150 SKS'.

surabaya.tribunnews.com/sri wahyunik
Mahasiswa di Jember membentangkan spanduk saat aksi turun ke jalan, Senin (23/9/2019) 

SURYA.co.id | JEMBER - Kira-kira seribu mahasiswa Jember turun jalan, berdemonstrasi menanggapi 'Orba 4.0', Senin (23/9/2019).

Demonstrasi dipusatkan di Bundaran DPRD Jember, kemudian berlanjut ke gedung DPRD Jember.

Dalam aksi itu mereka memakai tajuk 'Menanggapi Orba 4.0, Mari Kuliah di Jalan 150 SKS'. Tajuk inilah yang tersemat di poster yang disebar oleh elemen mahasiswa itu. Mahasiswa Jember yang berdemonstrasi itu tergabung dalam Cipayung Plus Jember.

"Rezim yang ada saat ini adalah rezim Orba 4.0. Reformasi berasa Orde Baru, seiring dibuatnya regulasi yang ngawur," tegas Korlap Aksi, Andi Saputra.

Melalui aksi itu, mereka menyerukan bahwa pemerintah saat ini telah membuat regulasi ngawur. Karenanya mereka menyerukan penolakan atas regulasi ngawur itu.

Regulasi yang dinilai mereka ngawur adalah UU KPK (yang beberapa waktu lalu disahkan revisinya sehingga menjadi UU), Rancangan KUHP, RUU Pertanahan, dan RUU Pemasyarakatan.

"Kami menolak UU KPK yang beberapa waktu lalu disahkan, karena itu akan melemahkan KPK. Kami meminta KPK tetap sebagai lembaga yang independen. Juga kami menolak RUU Pertanahan, RUU Pemasyarakatan, juga R-KUHP yang di dalamnya ada pasal-pasal yang mengancam kebebasan," tegas Andi.

Mahasiswa menyertakan kajian, kenapa mereka menolak UU dan RUU di atas.

Pertama, terkait UU KPK. Mahasiswa menilai prosedur pembahasan revisi UU KPK hingga akhirnya disahkan menjadi UU menabrak sejumlah prosedur peraturan perundangan. UU KPK yang kini telah disahkan, tidak inklusif juga bakal mengamputasi independensi lembaga antirasuah tersebut.

Kedua, pasal di RUU Pertanahan dinilai mengandung unsur liberalisasi tanah, dan nantinya hanya berpihak kepada segelintir orang. Juga ada potensi pengancaman dan kriminalisasi kepada pejuang tanah (draft Pasal 89 dan 94 RUU Pertanahan).

Halaman
12
Penulis: Sri Wahyunik
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved