Berita Magetan

Di Bawah Terik Matahari, Ratusan Santri di Magetan Gelar Salat Minta Hujan

Salat meminta hujan ini digelar di lapangan desa Pragak, kecamatan Parang, di bawah terik matahari sehingga menyebabkan santri yang tak kuat, pingsan.

Di Bawah Terik Matahari, Ratusan Santri di Magetan Gelar Salat Minta Hujan
surabaya.tribunnews.com/doni prasetyo
Ratusan santri salat Istisqa atau salat mohon diturunkan hujan, yang dilakukan dibawah terik matahari. Akibatnya sejumlah santriwati roboh di tengah lapangan Desa Pragak, Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan, saat melakukan salat itu, Minggu (22/9). 

SURYA.co.id | MAGETAN - Ratusan santri bersama Kiai pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) di wilayah Kabupaten Magetan melakukan salat Istisqa atau salat meminta hujan, Minggu (22/9/2019).

Salat meminta hujan ini digelar di lapangan desa Pragak, kecamatan Parang, di bawah terik matahari sehingga menyebabkan santri yang tak kuat, pingsan. 

"Didorong banyaknya wilayah di Kabupaten Magetan yang saat ini mengalami kekeringan, PCNU mengajak para nahdliyin melakukan salat Istisqa atau salat mohon diturunkan hujan,"kata Ketua PCNU Magetan, KH Mansyur Abdullah kepada Surya, Minggu (22/9).

Menurut Kiai Mansyur, salat istisqa ini sengaja dilakukan di lapangan Desa Pragak, Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan, yang merupakan wilayah paling kering di Kabupaten Magetan.

"Kami sengaja melakukan salat istisqa di wilayah paling kering di Kabupaten Magetan, bersama masyarakat sekitar, memohon kepada Allah SWT agar segera diturunkan hujan di wilayah Magetan dan di seluruh Indonesia,"ujar Kiai Mansyur Abdullah.

Dia mengatakan, salah istisqa ini juga untuk menghentikan bencana kebakaran hutan dan lahan (Kahutla) dibeberapa wilayah di luar pulau Jawa.

"Semoga Allah mengambulkan dan menurunkan hujan, agar sejumlah daerah di Magetan dan secara umum di seluruh Indonesia yang mengalami kebakaran hutan dan lahan, segera teratasi,"katanya.

Awal musim kemarau lalu, daerah yang menagalami kekeringan hanya di wilayah Kecamatan Parang dan Karas. Namun saat ini kekeringan itu sudah meluas di Kecamatan Lembeyan. Dari semula warga yang terdampak kemarau ini mencapai 5000 jiwa, sekarang sudah mencapai 8000 jiwa lebih.

Catatan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magetan, wilayah di Kabupaten Magetan yang setiap musim kemarau selalu dilanda kekeringan, yakni Kecamatan Parang dan Karas.

Namun saat ini, wilayah kekeringan itu meluas sampai ke Kecamatan Lembeyan, yang sebelumnya dikenal sebagai wilayah subur, yang banyak mata air. Tapi di musim kemarau ini, sejumlah desa di wilayah Kecamatan Lembeyan dilaporkan mulai kekurangan air bersih.

Sementara sesuai data di PDAM Lawu Tirta Magetan, air waduk dan Telaga Pasir Sarangan yang selama ini menjadi penyokong air bersih ke hampir seluruh wilayah kecamatan di Kabupaten Magetan, diperkirakan sisa air untuk memenuhi kebutuhan air bersih tinggal sampai awal bulan Oktober 2019 mendatang.

Penulis: Doni Prasetyo
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved