Citizen Reporter

Perobekan Bendera Merah Putih Biru di Hotel Yamato

Peristiwa perobekan bendera merah-putih-biru yang terjadi di Hotel Yamato dan sekarang menjadi Hotel Majapahit Surabaya. Setiap tahun,

Perobekan Bendera Merah Putih Biru di Hotel Yamato
ist/citizen reporter
Suasana Diskusi 

SURYA.co.id - Diskusi budaya yang dilakukan Yayasan Jiwa Indah Bangsa mengenai ikon Surabaya menarik diikuti. Diskusi dihadiri berbagai kalangan, mulai dari tokoh masyarakat, tokoh agama, mahasiswa, hingga masyarakat umum di Balai Adika, Hotel Majapahit Surabaya, Kamis (19/9/2019).

Anis Sofyan, Ketua Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) sebagai generasi tua mengatakan, diskusi itu memberikan makna penting agar sejarah makin diminati oleh masyarakat terlebih generasi muda. "Sejarah makin dikaburkan, makin tidak diminati. Karena itu kenali penjuang Indonesia, seperti Gatotkaca atau Majapahit," harapnya.

Hal serupa juga dialami Ardito, mahasiswa ITS. Diskusi itu menjadikannya tahu akan peristiwa bersejarah 19 September 1945, terlebih menyasar generasi muda.

Dalam diskusi dibahas tentang pelurusan peristiwa perobekan bendera merah-putih-biru yang terjadi di Hotel Yamato dan sekarang menjadi Hotel Majapahit Surabaya. Setiap tahun, lembaga itu memperingatinya dengan mengadakan monolog peringatan perobekan bendera. Namun, di tahun ke-7 ini, peringatan diadakan dengan diskusi lintas generasi.

Peristiwa perobekan bendera yang dulu dilaksanakan 10 November, sekarang diperingati pada 19 September.

Menurut Ananto Sidohutomo, salah satu peserta diskusi, pertempuran memang pada 10 November 1945, tetapi peristiwa perobekan terjadi pada 19 September 1945.

"Memang ada pertempuran, namun perobekan terjadi di pertempuran ke-23. Itu berarti 19 September 1945. Kalau 10 November 1945 memang ada pertempuran, tetapi berbeda peristiwa. Itu pertempuran ke-24 di Surabaya," tutur Ananto.

Dalam diskusi itu juga muncul keinginan menjadi Tunjungan sebagai ikon kota Surabaya. Mereka meminta Pemkot Surabaya untuk melepas bangunan bertutup seng-seng yang selama ini membuat wilayah Tunjungan terlihat kurang menarik. Tunjungan sebagai cagar budaya atau kawasan tempat bersejarah yang menggambarkan peradaban masa lalu, kini, hingga masa depan.

Anna Wahidatul
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi
UIN Sunan Ampel Surabaya
annawardah26@gmail.com

Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Adrianus Adhi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved