Citizen Reporter

Menengok Tradisi Kebo - Keboan di Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi

Banyuwangi kaya akan tradisi. Sebagai wujud pelestarian budaya yang tidak boleh pupus tergerus zaman, warga Desa Alas malang, Kecamatan Singojuruh

Menengok Tradisi Kebo - Keboan di Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi
ist/citizen reporter
Kebo-keboan 

SURYA.co.id - Banyuwangi kaya akan tradisi. Sebagai wujud pelestarian budaya yang tidak boleh pupus tergerus zaman, warga Desa Alas malang, Kecamatan Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi, menggelar tradisi kebo-keboan, Minggu (15/9/2019).

Sesuai dengan namanya, kebo-keboan dilakukan dengan mengarak kerbau. Namun, kerbau yang digunakan bukan kerbau sungguhan, melainkan manusia yang berdandan seperti kerbau. Dengan dilumuri cat berwarna hitam pekat, beserta aksesori tanduk di kepala dan jadilah kerbau yang siap diarak.

Upacara adat itu sudah ada sejak 300 tahun yang lalu, tepatnya pada abad ke-18. Kebo-keboan biasa dilakukan di awal Bulan Suro, penanggalan Jawa.

Acara itu dihadiri Abdullah Azwar Anas, Bupati Banyuwangi. Anas mengingatkan, untuk menguatkan budaya asli daerah, seperti kebo-keboan. Itu supaya dapat membentengi dari masuknya budaya asing.

Daerah yang tidak memberikan panggung pada pemudanya untuk mengeksplorasi budaya daerahnya, bersiap-siap budayanya dihancurkan budaya asing.

Anas juga menambahkan, dengan adanya tradisi kali ini, masyarakat bertemu, berkumpul, dan bersilaturahmi serta mendapatkan hiburan dengan totalitas penuh kemeriahan.

"Semua warga, termasuk anak-anak muda berkumpul dan bergotong royong mengemas acara ini, sehingga warga menjadi sangat amat terhibur dengan kemeriahan total. Ini menjadi modal penting untuk terus memublikasikan ke skala internasional serta menjadi modal penting untuk membangun daerah," tutur Anas
Sebelum ritual adat dimulai, warga menggelar doa bersama dan pembacaan tahlil di sepanjang jalan desa.

Warga berbondong memadati perempatan dusun dengan membawa nasi dan lauk. Setelah melakukan doa bersama, warga menyantap nasi yang mereka bawa.

Tujuan dari adat ini adalah bentuk rasa syukur atas panen yang melimpah. Itu juga merupakan doa agar proses tanam benih untuk tahun depan dapat menghasilkan panen yang melimpah.

Surigo, Kepala Desa Alas Malang, mengapresiasi panitia penyelenggara dan warga sekitar. "Kebo-keboan Alas Malang kini bukan lagi dikonsumsi pada tingkat nasional saja, namun oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi sudah dikenalkan hingga internasional," ucap Surigo.

Tradisi itu menjadi salah satu suguhan atraksi yang ditunggu-tunggu wisatawan. Mereka ingin melihat langsung bagaimana warga Alas Malang beramai-ramai mengarak sosok kerbau yang diperankan oleh manusia mengelilingi desa.

“Awalnya penasaran, bagaimana sih uniknya sosok binatang kerbau yang diperankan manusia. Ternyata semua warga total. Ini membuat semarak dan sakral. Nilai tradisinya wajib dipertahankan,” ujar Sudrajat Adi Brata, wisatawan asal Sidoarjo yang sedang berlibur di Banyuwangi.

Festival diakhiri dengan penanaman benih padi oleh manusia kerbau, yang diharapkan bisa memberikan panen yang melimpah. Selain itu, tokoh yang memiliki peran sebagai Dewi Sri yang membagikan benih padi.

Dyah Maharani Junio
Warga Sidoarjo
mbak.maharani30@gmail.com

Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Adrianus Adhi
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved