Citizen Reporter

Komunitas Musik Hitam Kalisat, Jember Menjalin Saudara Lewat Kopi

Ada komunitas pecinta musik etnik bernama Kopi Hitam. Komunitas itu berada di Kalisat, Jember. Komunitas itu telah berdiri sejak 2016.

Komunitas Musik Hitam Kalisat, Jember Menjalin Saudara Lewat Kopi
ist/citizen reporter
Komunitas Kopi Hitam 

SURYA.co.id - Musik etnik adalah musik yang memiliki ciri khas suatu daerah. Di era milenial, banyak anak muda yang belum mengetahui dan mengenal musik etnik.

Keberadaan musik etnik mulai terlupakan seiring berjalannya waktu dan perkembangan zaman.

Ada komunitas pecinta musik etnik bernama Kopi Hitam. Komunitas itu berada di Kalisat, Jember. Komunitas itu telah berdiri sejak 2016. Komunitas itu beranggotakan 13 orang. Sejak awal, tujuan komunitas itu untuk bermusik dan berkarya menggunakan instrumen khas daerah.

Menurut RZ Hakim, salah satu perintis Kopi Hitam, komunitas itu lahir di tengah-tengah orang yang memiliki keahlian di bidang teater. Ia bersama teman-temannya yang sesama pecinta musik etnik menciptakan komunitas itu.

“Musik bisa mengungkapkan suasana hati dan mengubah suasana lewat musik. Seperti halnya jika kami punya masalah dengan kehidupan masing-masing, kami bisa membawakan dengan ekspresif seperti bernyanyi serta berteriak di atas panggung,” ujar Firman dan Amin yang merupakan anggota Kopi Hitam saat ditemui, Jumat (13/9/2019).

Kopi Hitam bermusik untuk memeriahkan acara dari panggung ke panggung.

Ketika bermain musik, mereka kadang-kadang menggunakan alat musik modern, tetapi tetap memakai instrument musik daerah. Jimbe, ukulele, suling, dan berbagai alat musik lain dimainkan.

Komunitas itu menerima permintaan untuk bermain musik, tetapi uniknya mereka tidak mau dibayar. Mereka hanya menerima pembayaran dengan secangkir kopi. Alasannya cukup menarik, yakni untuk mempererat persaudaraan dalam komunitas. Mereka tidak ingin terlibat dalam drama uang, karena uang bisa menguasai keakraban dan kelekatan yang telah dibangun di dalamnya.

Saat ini, Kopi Hitam sudah tidak merekrut anggota baru lagi. Mereka lebih fokus dalam mengembangkan komunitas kecil itu. Mereka mengaku tidak ingin nama komunitasnya menjadi besar dan terkenal. Mereka hanya ingin merintis dan tumbuh secara perlahan namun dapat menikmati setiap prosesnya. Mereka tidak ingin jika komunitasnya menjadi terkenal, namun akhirnya dilupakan begitu saja seiring berkembangnya zaman.

Astiti Surya Dewi
Mahasiswa Sastra Inggris
Universitas Trunojoyo Madura
astitisuryadewi@gmail.com

Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Adrianus Adhi
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved