Press Release

Pengguna Gawai Berisiko Mengalami Kerusakan Saraf Tepi

Mayoritas orang mengakses internet lewat gawai. Padahal, penggunaan gawai dalam jangka waktu lama berisiko mmenyebabkan kerusakan saraf tepi

Pengguna Gawai Berisiko Mengalami Kerusakan Saraf Tepi
surabaya.tribunnews.com/sri handi lestari
(Dari kiri kekanan) Dr Manfaluthy Hakim, Sp S (K), Ketua Kelompok Studi Neurofisiologi dan Saraf Tepi PERDOSSI Pusat bersama Wens Arpandy, Group Brand Manager, P&G Consumer Health Indonesia dan dr Yoska Yasahardja, Medical & Technical Affairs Manager Consumer Health, P&G Health, saat mengenalkan tentang penggunaan gadget dalam waktu lama yang bisa beresiko mengalami kerusakan syaraf tepi atau neuropati. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Berdasarkan Survei Nasional Penetrasi Pengguna Internet tahun 2018, hampir 64,6 persen dari total 264,16 juta penduduk Indonesia atau sekitar 171,17 juta orang aktif menggunakan internet.

Dari data tersebut, masyarakat Jawa Timur merupakan pengguna internet terbesar ke-3 di Indonesia dari total pengguna, yaitu sebesar 13,5 persen atau sekitar 2,2 juta orang.

Sekitar 93,9 persen dari total pengguna internet, terhubung dengan internet melalui gawai. Secara umum, pengguna internet mengakses informasi lebih dari 8 jam setiap harinya. Penggunaan gawai berdurasi panjang dapat menyebabkan risiko kerusakan saraf tepi/neuropati.

Oleh karena itu, P&G Health melalui brand Neurobion, menghadirkan solusi total untuk mengatasi neuropati akibat kekurangan vitamin neurotropik (Vit B1, B6, B12).

"Saraf tepi adalah penghubung organ tubuh dengan saraf pusat yaitu otak dan sumsum tulang belakang dengan seluruh organ tubuh (organ dalam, mata, pendengaran, penghidu, kelenjar keringat, kulit dan otot - otot), karena itu sangat penting untuk dijaga agar tetap berfungsi maksimal dan terhindar dari neuropati atau kerusakan saraf tepi," jelas Wens Arpandy, Group Brand Manager, P&G Consumer Health Indonesia, Sabtu (14/9/2019) di Surabaya.

Ketika saraf tepi mengalami kerusakan maka akan muncul gejala-gejala seperti kesemutan, kebas, kram, dan kelemahan otot yang disebut dengan neuropati. Karena itu, menurut Wens, pihaknya menyadari bahwa saat ini teknologi berperan penting dalam menunjang aktivitas masyarakat, namun penggunaan dalam jangka waktu lama berisiko menyebabkan kerusakan saraf tepi.

Fakta dari Survey Nasional Penetrasi Pengguna Internet juga sejalan dengan Consumer’s Behaviour and Lifestyle Study yang mengatakan bahwa di Surabaya, 72,1 persen responden aktif menggunakan gawai.

"Dan sekitar 23,8 persen merasakan gejala kerusakan saraf seperti kesemutan, kebas dan kram pada usia 26 – 30 tahun. Oleh karena itu, ancaman neuropati pada pengguna gawai semakin perlu diwaspadai sejak dini," lanjut Wens.

Dr Manfaluthy Hakim, Sp S (K), Ketua Kelompok Studi Neurofisiologi dan Saraf Tepi PERDOSSI Pusat, menjelaskan, gerakan/kegiatan berulang umumnya menyebabkan beberapa gangguan, salah satunya gangguan saraf tepi akibat jeratan.

"Salah satu contoh kegiatan berulang adalah mengetik, penggunanan mouse yang terus menerus, bermain game di komputer maupun gawai. Bagian tubuh pengguna gawai yang berisiko terkena neuropati adalah bagian tangan, lengan terutama siku. Umumnya daerah tersebut bisa terkena neuropati akibat jeratan. Neuropati akibat jeratan sering terjadi di carpal tunnel. Pencegahan dan pengobatan dini neuropati sangat penting untuk dilakukan mengingat kerusakan saraf akan bersifat irreversible apabila kehilangan serabut saraf di atas 50 persen," jelas dr Manfaluthy.

dr Yoska Yasahardja, Medical & Technical Affairs Manager Consumer Health, P&G Health, menambahkan, pada Studi Klinis 2018 NENOIN (Penelitian Non-intervensi dengan vitamin neurotropik) membuktikan bahwa konsumsi kombinasi Vitamin Neurotropik yang terdiri dari vitamin B1, B6, dan B12 secara rutin dan berkala dapat mengurangi gejala neuropati seperti kebas, kesemutan, rasa terbakar dan rasa sakit secara signifikan hingga 62,9 persen dalam 3 bulan periode konsumsi.

"Vitamin neurotropik yang digunakan dalam studi ini adalah Neurobion Forte," jelas dr Yoska.

Neurobion memiliki dua varian yaitu Neurobion Forte dan Neurobion putih. Masyarakat dapat mengatasi kesemutan akibat neuropati karena kekurangan vitamin neurotropik (B1, B6, B12) dengan Neurobion Forte. Untuk gejala yang sudah lebih ringan dan pencegahan gejala Neuropati akibat kekurangan vitamin Neurotropik (B1, B6, B12) gunakan / minum Neurobion putih.

Wens Arpandy menambahkan, Neurobion berkomitmen untuk mewujudkan masyarakat yang sehat dan dapat menjalani hidup berkualitas melalui kampanye terintegrasi solusi total.

"Solusi Total dari Neurobion terdiri dari produk vitamin neurotropik berkualitas yang terbukti klinis serta disesuaikan dengan tingkat gejala neuropati, deteksi dini di Neuropathy Check Point (NCP) dan senam kesehatan saraf Neuromove," tambah Wens.

Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved