Berita Jember

Istri Nurul Ghufron Awalnya Keberatan Sang Suami Ikut Seleksi Capim KPK: Perasaan Saya Campur Aduk

Ais mengaku, pada awalnya dia agak keberatan sang suami mendaftar di KPK. Apalagi setelah mendengar kalau suaminya lolos di 20 besar

Istri Nurul Ghufron Awalnya Keberatan Sang Suami Ikut Seleksi Capim KPK: Perasaan Saya Campur Aduk
SURYA.co.id/Sri Wahyunik
Komisioner KPK terpilih periode 2019 - 2023, Nurul Ghufron dan sang istri, Siti Aisyiyah. 

SURYA.co.id | JEMBER - Perasaan Siti Aisyiyah (42), istri Nurul Ghufron, pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terpilih periode 2019 - 2023, masih campur aduk. Hal ini diungkapkan Ais, panggilan akrab perempuan itu saat Surya.co.id bertandang ke rumahnya di Perumahan Taman Kampus A1-19, Kelurahan Tegalgede, Kecamatan Sumbersari, Jember, Sabtu (14/9/2019).

"Masih campur aduk, antara percaya nggak percaya. Sampai sekarang masih campur aduk karena memang dari awal saya agak keberatan Mas Ghufron mendaftar calon pimpinan KPK. Sebab selama ini kehidupan kami, saya dan Mas Ghufron kan hanya seputar dunia pendidikan. Dia dosen, saya juga dosen. Lha kok tiba-tiba masuk ke KPK yang amanahnya sangat berat, dunia akhirat. Risiko pekerjaan yang besar sekali. Namun di sisi lain, saya juga bangga. Karena masuk ke KPK berarti manfaat ilmu Mas Ghufron akan semakin luas. Di situlah, perasaan saya campur aduk," ujar Ais.

Ais mengaku, pada awalnya dia agak keberatan sang suami mendaftar di KPK. Apalagi setelah mendengar kalau suaminya lolos di 20 besar, berlanjut ke 10 besar. Bahkan di proses itu, dia sempat merayu ibu mertuanya untuk mendoakan sang suami tidak lolos.

"Tapi ibu mertua kan nggak tahu, kenapa kok saya malah keberatan. Akhirnya saya cerita tentang pekerjaan di KPK, dan risikonya. Saya sampai merayu-rayu ibu. Karena Mas Ghufron kan sangat manut omongan ibunya. Namun belakangan ibu bilang mendapatkan sinyal positif setelah melakukan salat istikharah," imbuhnya.

Karena ibunda Nurul Ghufron, Ny Sufiati menenangkan Ais dan menceritakan apa yang ditangkapnya dari salat itu, Ais pun hanya bisa pasrah.

Ternyata, sang suami lolos sebagai lima orang komisioner KPK periode 2019 - 2023. Selanjutnya, Ais akan mendukung langkah sang suami meskipun dia selalu menyadari risiko dan ancaman bekerja di KPK.

"Tentunya ya harus mendukung dan memberikan support kepada suami. Selama ini kan kerap cerita-cerita kalau ada persoalan. Tentunya saya harus bisa medukung bagaimana supaya tidak stres, saling berkomunikasi. Selain itu, tentunya kami berpasrah kepada Allah SWT karena yang mengatur kehidupan dan jalan manusia adalah Tuhan," tegas Ais.

Mulai saat ini, sampai waktunya pelantikan Ghufron sebagai komisioner KPK yang baru pada Desember 2019 nanti, dirinya harus mempersiapkan keluarga, terutama ketiga anaknya.

Nurul Ghufron menginginkan dirinya ikut ke Jakarta. Di sisi lain, kemungkinan ketiga anaknya tidak bisa ikut semuanya ke Jakarta.

"Yang pertama kan sudah kuliah, baru masuk kuliah, seperti agak sulit pindah. Entah yang kedua dan terutama yang bungsu yang masih SD. Tentunya kami harus berbicara baik-baik dengan anak-anak," imbuh pengajar di Politeknik Negeri Jember itu.

Nurul Ghufron, satu dari lima orang komisioner KPK periode 2019 - 2023, berasal dari Jember. Dia adalah dosen di Universitas Jember. Dia juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Hukum Universitas Jember. Ghufron beristrikan Siti Aisyiyah, pengajar di Politeknik Negeri Jember. Pasutri ini memiliki tiga orang anak.

Kepada Surya.co.id, Ghufron mengatakan memang ingin memboyong keluarganya ikut ke Jakarta.

"Istri,dan mungkin anak yang kecil. Nanti akan diatur lagi tentunya," imbuhnya.

Ketika disinggung tentang risiko besar bekerja di KPK, Ghufron menegaskan dirinya tidak ingin mencari musuh.

"Saya tidak ingin mencari musuh. Tentunya apapun yang terjadi saya pasrahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, baik untuk saya maupun keluarga," tegasnya.

Penulis: Sri Wahyunik
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved