Sambang Kampung

Usaha Kacang Pedas, Mardiati Habiskan 50 Kilogram Kacang Setiap Hari

"Dulu berkali-kali melakukan percobaan untuk menemukan satu resep. Nyoba terus nggak jadi, nyoba lagi terus nggak jadi lagi. Akhirnya nemu yang pas,"

Usaha Kacang Pedas, Mardiati Habiskan 50 Kilogram Kacang Setiap Hari
surabaya.tribunnews.com/ahmad zaimul haq
Pekerja saat memproduksi tahap akhir kacang pedas Nonstop yang merupakan salah satu UKM warga Sidoyoso Wetan dan sudah berproduksi sejak tahun 2000. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Sejak tahun 2000-an Mardiati, warga RT 04/RW 13 Kampung Sidoyoso Wetan, Surabaya, telah membuka usaha camilan kacang pedas. Usaha ini ia jalankan bersama keluarganya.

"Awalnya dulu memang ingin mendapat penghasilan. Awal mula, kami membuka usaha kering tempe, tapi kok susah dipasarkannya. Akhirnya bahan kering tempe kami buat di kacang, ternyata lebih gampang," ungkap Mardiati ditemui di tempat usahanya.

Merk camilan miliknya yaitu Nonstop, yang memiliki arti pembeli yang makan camilan itu tak bisa berhenti menikmatinya.

"Produk kami sama sekali tidak mengandung pemanis, pewarna, dan pengawet berbahaya. Juga telah terdaftar di departemen kesehatan RI," ungkapnya.

Dalam sehari, kata Ika Dian Purwanti, anak perempuan Mardiati, kacang yang diolah mencapai 50 kilogram, bahkan bisa lebih.

"Berarti setidaknya ada 3.240 kemasan yang diproduksi setiap hari. Satu bungkusnya kami beri harga Rp 2 ribu untuk eceran dan Rp 1.600 untuk agen," ungkap Ika.

Dari kemasan yang selalu habis dibeli, ada satu sampai dua persen yang dikembalikan karena sistemnya menggunakan penjualan konsinyasi.

Usaha kacang pedas milik Mardiati ini telah dipasarkan ke berbagai daerah, baik melalui offline maupun online.

"Untuk offline, produk kami sudah tersebar di beberapa wilayah seperti Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo," tutur Ika.

Dipasarkannya, ungkap Mardiati, mulai di toko-toko, giras, warung-warung, dan lain sebagainya.

Sementara secara online, yaitu melalui akun instagram, produk kacang pedas tersebut telah sampai di Jakarta, bahkan Mardiati mengatakan pernah dikirim ke Kalimantan.

Cara membuat kacang pedasnya, Mardiati mengatakan, awal mula kacang digoreng hingga matang. Setelah itu, masak bumbu-bumbu yaitut gula merah, lomboknya, dan lain-lain. Langkah selanjutnya yaitu gongso kacang dan bumbunya. Kacang pedas pun siap dikemas.

"Dulu kami berkali-kali melakukan percobaan untuk menemukan satu resep. Nyoba terus nggak jadi, nyoba lagi terus nggak jadi lagi. Akhirnya menemukan resep yang pas," ungkapnya.

Kini, Mardiati dan keluarganya telah memiliki empat pegawai yang juga merupakan warga desa Sidoyoso Wetan

Penulis: Christine Ayu Nurchayanti
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved