Berita Jember

Kejari Jember Sidik Dugaan Korupsi Dana Bantuan Rumah Tidak Layak Huni

Kejari Jember sedang melakukan penyidikan dalam dugaan tindak pidana korupsi bantuan rumah swadaya bagi pemilik Rumah Tidak Layak Huni (RTLH)

Kejari Jember Sidik Dugaan Korupsi Dana Bantuan Rumah Tidak Layak Huni
ist
Jaksa Kejari Jember usai memeriksa tersangka DLP dalam dugaan tipikor bantuan perbaikan RTLH 

SURYA.co.id | JEMBER - Kejaksaan Negeri (Kejari) Jember sedang melakukan penyidikan dalam dugaan tindak pidana korupsi bantuan rumah swadaya bagi pemilik Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di Kecamatan Sumbersari, Jember.

Jaksa sudah menetapkan dua orang tersangka dalam perkara itu, yakni berinisial MRS dan DLP.

MRS merupakan pemilik toko bangunan di Kecamatan Sumbersari, dan DLP seorang wiraswasta dari Kecamatan Kaliwates.

Kepala Seksi Intelijen Kejari Jember, Agus Budiarto, kedua orang tersebut sudah ditahan di Lapas Jember.

"Ada dua tersangka. Keduanya diduga kuat terlibat dalam tindak pidana korupsi ini, dan sudah kami tahan," ujar Agus, Rabu (11/9/2019). MRS ditahan akhir pekan lalu, sedangkan DLP ditahan kemarin, Selasa (10/9/2019) sore.

Dugaan kerugian dalam kasus ini diperkirakan mencapai Rp400 juta. Agus menceritakan peran MRS dan DLP dalam perkara yang memakai dana bantuan dari APBD tahun 2017 lalu tersebut. Tahun itu, ada 195 penerima bantuan perbaikan RTLH di Kecamatan Sumbersari. Dana bantuan perbaikan setiap rumah sebesar Rp 15 juta.

MRS sebagai pemilik toko bangunan yang menyediakan material perbaikan RTLH tersebut. Sedangkan DLP yang mengatur nilai material yang didistribusikan kepada penerima.

"DLP ini mengatur berapa nilai material yang dikirimkan kepada penerima. Sementara MRS, selaku pemilik toko material, yang menyediakan bahan material perbaikan RTLH. Dari nilai seharusnya Rp 15 juta per rumah, ketika material jadi setelah dikalkulasi ternyata nilainya kurang dari Rp 15 juta. Ada yang Rp 8 juta, Rp 10 juta, juga Rp 12 juta," imbuh Agus.

Penerima bantuan menerima bantuan dalam bentuk material, seperti pasir, semen, besi, atau kusen. Tetapi seharusnya nilai material itu sebesar Rp 15 juta. "Sisa uang material itulah yang diduga dibagi oleh DLP dan MRS," tegas Agus.

Ketika disinggung apakah kemungkinan akan ada tersangka lain, Agus menjawab tidak menutup kemungkinan itu terjadi.

"Tidak menutup kemungkinan itu bisa terjadi. Kami juga sudah meminta keterangan saksi dari dinas terkait yang memberikan bantuan," ujarnya.

Bantuan tersebut disalurkan melalui Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya Pemkab Jember.

Penulis: Sri Wahyunik
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved