Berita Nganjuk

Bupati Nganjuk Nilai Wajar Munculnya Persoalan Ketersediaan Air Irigasi Sawah di saat Musim Kemarau

"Yang jelas kami sudah mencoba mencari solusi terbaik atas kesulitan air irigasi persawahan untuk pertanian di Kabupaten Nganjuk," tandas Mas Novi.

Bupati Nganjuk Nilai Wajar Munculnya Persoalan Ketersediaan Air Irigasi Sawah di saat Musim Kemarau
surya.co.id/ahmad amru muiz
Petani di Kabupaten Nganjuk mengawasi saluran air irigasi dari sungai ke persawahan. Ini setelah ketersediaan air sungai untuk sawah pertanian mengalami penyusutan di musim kemarau. 

SURYA.CO.ID | NGANJUK - Munculnya berbagai persoalan air irigasi persawahan dinilai wajar oleh Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidhayat. Pasalnya, persoalan air irigasi persawahan pada musim kemarau tidak hanya terjadi di Kabupaten Nganjuk, melainkan juga terjadi di seluruh wilayah Indonesia.

Mas Novi panggilan akrabnya,  mengatakan, pihaknya telah melakukan sejumlah langkah untuk menjaga kondisi air irigasi persawahan tetap mengalir di musim kemarau seperti sekarang ini. Hanya saja, karena ketersediaan air waduk yang dialirkan ke sungai sangat terbatas dipastikan tidak akan dapat memenuhi kebutuhan air di persawahan.

"Yang jelas kami sudah mencoba mencari solusi terbaik atas kesulitan air irigasi persawahan untuk pertanian di Kabupaten Nganjuk. Tapi ya bagaimana lagi memang kondisi kemarau sekarang ini," kata Novi Rahman Hidhayat, Minggu (8/9/2019).

Dijelaskan Mas Novi panggilan akrab Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidhayat, untuk solusi jangka panjang Pemkab Nganjuk terus mendesak kepada Pemerintah Pusat untuk segera menyelesaikan pembangunan waduk Semantok. Ini dikarenakan keberadaan waduk Semantok diharapkan nantinya akan menjadi solusi dan mampu menyediakan air untuk irigasi persawahan guna memenuhi kebutuhan petani.

Sedangkan untuk jangka pendek, menurut Mas Novi, Pemkab Nganjuk akan berupaya membuat sumur-sumur bantuan untuk memenuhi kebutuhan air petani. Hanya saja, pengeboran sumur tersebut tidak boleh sampai mengambil air sumber paling dalam di tanah. Karena dikhawatirkan akan mengganggu ketersediaan air dalam tanah bagi pemenuhan kebutuhan kehidupan warga di Kabupaten Nganjuk.

"Akan tetapi, pengeboran tanah untuk mencari sumber air itu bukanlah solusi utama pemenuhan kebutuhan air di Kabupaten Nganjuk. Jadi jangan banyak diharapkan dapat air pertanian dari pengeboran," tandas Mas Novi.

Oleh karena itu, ungkap Mas Novi, Pemkab Nganjuk akan berupaya melakukan penghijauan di lahan-lahan kosong untuk penyediaan air. Ini dikarenakan program penghijauan di Kabupaten Nganjuk sangat dibutuhkan mengingat terus menurunya persediaan air tanah bagi pertanian dan kehidupan warga.

"Yang pasti, lahan kosong di Kabupaten Nganjuk tidak boleh dibiarkan begitu saja dan harus dihijaukan dengan berbagai tanaman yang bisa menahan dan mengikat air hujan," ucap Mas Novi.

Memang, diakui Mas Novi, adanya protes dari petani terkait ketersediaan air irigasi di sawah selalu diikuti perkembanganya. Dan pihaknya juga telah meminta kepada pengelola waduk Bening untuk menaikkan debit air di saluran sungai Widas bagian Utara untuk memenuhi kebutuhan air di persawahan.

"Tapi mungkin karena kondisi air waduk Bening di musim kemarau juga mengalami penyusutan sehingga pasokan air untuk memenuhi kebutuhan sawah di Kabupaten Nganjuk juga terbatas," ujar Mas Novi.

Seperti diketahui sebelumnya, petani enam desa di Kecamatan Rejoso Kabupaten Nganjuk sempat melakukan aksi demo karena kesulitan air irigasi di sawah. ini setelah lahan pertanian seluas sekitar 700 hektar milik petani terancam gagal panen akibat kesulitan air.

Kondisi kesulitan air bagi petani tersebut diperparah oleh adanya hambatan saluran air dampak pembangunan plengsengan di sungai Widas. Dan itupun masih diperparah oleh adanya pelanggaran kesepakatan antar petani terkait jadwal waktu pembagian air irigasi. Bahkan, Satpol PP Pemkab Nganjuk sempat turun dan menertibkan saluran ilegal dan diesel pompa air yang beroperasi diluar waktu kesepakatan di sepanjang sungai Widas Kabupaten Nganjuk.

"Petani hanya ingin mendapatkan air untuk tanaman di sawah jelang panen. Makanya kami tidak ingin gagal panen gara-gara tidak mendapatkan jatah air irigasi sehingga nekat menggelar aksi demo ini," tutur Suparlan, Koordinator aksi petani dari enam desa di Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk.

Penulis: Ahmad Amru Muiz
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved