Single Focus

Bisnis Kafe di Bangunan Cagar Budaya, Pengelola Wajib Rawat Bangunan

"Tidak boleh mengubah bangunan utama. Kalau terpaksa mengubah bangunan atau gedung utama harus sepengetahuan Tim Cagar Budaya pemkot," katanya

Bisnis Kafe di Bangunan Cagar Budaya, Pengelola Wajib Rawat Bangunan
surabaya.tribunnews.com/sugiharto
Cafe Tanamera di HOS of Sampoerna, Surabaya, Sabtu (7/9/2019). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Surabaya tidak punya data valid jumlah cafe atau resto yang menempati bangunan cagar budaya. Apakah cafe heritage itu sejak semula keberadaannya memang tempat bisnis atau peralihan fungsi.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Surabaya, Antiek Sugiharti, saat dikonfirmasi masih belum mengetahui persis total destinasi Kuliner yang saat ini menempati gedung cagar budaya. Termasuk sejak kapan mereka menempati gedung bersejarah itu.

"Kafe atau resto mana saja detailnya, masih kami cek keseluruhannya. Tetapi, memang banyak kafe atau resto yang beroperasi di bangunan cagar budaya yang ada di Surabaya," ungkap Antiek, Minggu (8/9).

Sejumlah kafe dan resto kenamaan saat ini berdiri megah di bangunan cagar budaya. Selain Cafe Tanamera House of Sampoerna (HoS), ada Resto Bon Ami Jl Dr Sutomo, Resto de Sumatra, Resto Mahameru, kedai kopi Coffe Toffe Kantor Pos Simpang, Zangrandi Ice Cream, Resto Hotel Olympic, hingga resto di Hotel Majapahit.

Disebut cagar budaya karena usia bangunan lebih dari 50 tahun, model bangunannya mewakili budaya di eranya waktu itu. Unik dan eksotik saat berada di kafe legendaris ini.

Karena berfungsi sebagai kegiatan ekonomi, kafe atau resto di bangunan cagar budaya tetap harus membayar pajak. Selain pajak PBB (Pajak Bumi Bangunan), mereka juga dikenakan pajak restoran sesuai ketentuan.

"Mereka harus taat aturan main saat menempati dan menguasai lahan heritage itu," ujarnya.

Menurutnya, memang diperlukan langkah hati-hati dalam mempertahankan bangunan cagar budaya. Sebab pengelola atau pemilik gedung cagar budaya tidak boleh mengubah sedikitpun bentuknya.

"Utamanya tidak boleh mengubah bangunan utama. Kalau terpaksa mengubah bangunan atau gedung utama harus sepengetahuan Tim Cagar Budaya pemkot," tegas Antiek.

Kemandirian merawat

Tidak hanya saat renovasi cagar budaya Pemkot. Dalam hal perawatan rutin, juga perlu arahan tim yang sama.

"Namun biaya perawatan bangunan cagar budaya yang ditempati kafe diserahkan kepada pemilik. Pemkot tidak merawat," kata Antiek.

Kemandirian dalam merawat bangunan cagar budaya di tempat kafe atau resto itu, dimaksudkan agar masyarakat ikut berpartisipasi. Agar bangunan bernilai sejarah itu tetap terjaga keasliannya.

"Ada pidana bagi pemilik bangunan cagar budaya tetapi tidak merawatnya dengan baik. Tetapi, sejauh ini semua pemilik resto dan kafe cagar budaya merawatnya dengan baik," imbuh Antiek. 

Bisnis Kafe Tumbuh di Gedung Cagar Budaya

Penulis: Nuraini Faiq
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved