Berita Surabaya

Khofifah Mengaku Disurati Komisi Perlindungan Anak terkait Kasus Predator Anak di Mojokerto

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengaku bahwa Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyurati Pemprov Jawa Timur.

Khofifah Mengaku Disurati Komisi Perlindungan Anak terkait Kasus Predator Anak di Mojokerto
surya.co.id/fatimatuz zahro
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat memberikan pengarahan kepala desa, Kamis (5/9/2019). 

SURYA.CO.ID | SURABAYA - Vonis kebiri kimia terhadap pelaku predator pemerkosa anak di Mojokerto hingga kini masih menuai pro dan kontra. Banyak yang menyorot dan menyampaikan pro dan kontra oleh terhadap pelaksanaan kebiri kimia yang bakal menjadi yang pertama di Indonesia tersebut.

Terkait hal itu Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengaku bahwa Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyurati Pemprov Jawa Timur. Meski enggan berkomentar soal vonis kebiri kimia itu sendiri, gubernur perempuan pertama Jawa Timur itu menyebut bahwa yang perlu menjadi sorotan adalah preventif anak-anak dan lingkungan dari perilaku menyimpang.

"KPAI menyurati kami. Ya kita akan menerima audiensi mereka. Nanti kita akan jadwalkan juga," kata Khofifah, Kamis (5/9/2019).

Menurutnya lini terdepan dalam menjaga lingkungan adalah keluarga, kemudian RT, desa, kecamatan, dan kabupaten kota dan seterusnya. Mantan Menteri Sosial RI ini, jika ada satu diantara korban yang melapor lebuh awal maka bisa jadi korban tidak akan meluas karena sumber masalah cepat diketahui pelakunya.

"Dari rumah tangga, RT, harus ada kepedulian untuk selalu menjaga lingkungannya. Maka saya mohon bantuan kepala desa untuk galakkan Jogo Desa. Kami memulai dengan Jogo Jawa Timur dan berharap diikuti dengan penguatan di tingkat desa," katanya.

Dikatakan wanita yang juga mantan Kepala BKKBN ini, kebiri kimia yang perlu dipahamkan bukan dengan memotong alat kelamin. Tunjan dari kebiri kimia pun tak lain adalah menghindari adanya korban lain sehingga membahayakan anak-anak dan lingkungan.

"Masalahnya di sini, Jawa Timur, belum ada yang mau untuk melakuka kebiri kimia," ucapnya.

Menurutnya audiensi dengan KPAI ke depan juga akan membahas soal kasus tersebut. Sehingga bisa ditemukan solusi yang pas demi menjaga anak-anak Jawa Timur.

Ia menegaskan bahwa efek dari kebiri kimia hanya melemaskan pelaku dari segi dorongan seksual dan obat kimianya memiliki jangka waktu tertentu. Jika habis efeknya namun masa hukuman belum selesai maka diwajibkan untuk menambahkan obat kimia lagi.

"Intinya mari kita Jogo Jawa Timur. Sebab seandainya korban melapor lebih awal bisa jadi korban tidak akan menumpuk. Dan itu menjadi tanggung jawab kita semua untuk peka dan peduli dengan lingkungan sekitar kita," pungkas Khofifah.

Penulis: Fatimatuz Zahro
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved