Berita Surabaya

136.000 Peserta Nunggak Iuran di BPJS Kesehatan Cabang Surabaya, Mereka akan Ditagih, ini Alasannya

Sekitar 136.000 peserta BPJS Kesehatan di Kota Surabaya hingga saat ini menunggak iuran wajib. Mereka tetap akan ditagih. Sebab ini sudah kewajiban.

136.000 Peserta Nunggak Iuran di BPJS Kesehatan Cabang Surabaya, Mereka akan Ditagih, ini Alasannya
surya.co.id/nuraini faiq
Suasana pelayanan di Kantor BPJS Kesehatan Cabang Surabaya. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Sekitar 136.000 peserta BPJS Kesehatan di Kota Surabaya hingga saat ini menunggak iuran wajib. Mereka tetap akan ditagih. Sebab ini sudah menjadi kewajiban bersama dalam sistem BPJS.

"Kebanyakan yang belum memenuhi kewajibannya membayar iuran BPJS Kesehatan adalah peserta mandiri atau perseorangan. Yang kantor dan PBI (penerima bantuan iuran) tertib membayar iuran," kata Kepala BPJS Kesehatan Cabang Surabaya Herman Dinata, Kamis (5/9/2019).

Sama dengan kondisi nasional, BPJS Surabaya juga mengalami defisit. Hingga saat ini klaim yang sudah dibayarkan adalah Rp 1,9 triliun sedangkan penerimaan BPJS Kesehatan di kota ini sebanyak Rp 900 miliar. Jumlah ini adalah laporan hingga akhir Juli.

Banyaknya peserta BPJS Kesehatan yang Nunggak iuran wajib menjadikan nilai difisit keuangan BPJS bertambah.  Karena iuran wajib tak ada alasan untuk tidak melunasinya. Tunggakan itu wajib ditagih.

Herman menuturkan bahwa pihaknya wajib menagih ratusan ribu peserta yang belum memenuhi kewajibannya itu. Selain ada yang belum membayar beberapa bulan Ada pula yang hingga berbulan-bulan Nunggak iuran.

BPJS Kesehatan akan melalukan segala cara untuk menagih mereka yang belum membayar. Ada yang rutin ditagih melalui surat tagihan yang dikirim ke rumah. Ada pula melalui kader Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) hingga meminta kejaksaan menagih peserta BPJS yang Nunggak.

Saat total kepesertaan BPJS Kesehatan di Surabaya sebanyak
2,8 juta. "Bisa jadi karena lupa atau ada pula yang memang enggan membayar. Makanya kami mengembangkan pembayaran BPJS bisa melalui auto debet," kata Herman.

BPJS Kesehatan Surabaya diakui juga mengalami defisit. Salah satu penyebabnya adalah banyaknya pasien yang menggunakan rujukan dengan kondisi penyakit berat. Jantung atau kanker. Sementara di Surabaya juga banyak RS besar.

Kalau ginjal atau cuci darah tak perlu dirujuk ke RS di Surabaya. Hampir semua daerah sudah banyak RS nya yang melayani cuci darah. Ini bisa mengurangi penumpukan pasien di Surabaya.

Penulis: Nuraini Faiq
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved