Berita Nganjuk

Satpol PP Nganjuk Razia Ratusan Saluran Air Ilegal di Sungai Widas, ini Tujuannya

Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Nganjuk menggelar razia saluran irigasi ilegal disepanjang Sungai widas di Kecamatan Rejoso.

Satpol PP Nganjuk Razia Ratusan Saluran Air Ilegal di Sungai Widas, ini Tujuannya
surya.co.id/ahamd amru muiz
Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Nganjuk menggelar razia saluran irigasi ilegal di sepanjang sungai Widas di Kecamatan Rejoso. 

SURYA.CO.ID | NGANJUK - Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Nganjuk menggelar razia saluran irigasi ilegal disepanjang sungai widas di kecamatan Rejoso.

Hal itu sebagai tindak lanjut respon cepat aksi puluhan petani yang tanamanya terancam gagal panen akibat kesulitan mendapat air waduk bening yang mengalir di sungai Widas utara.

Kasatpol PP Pemkab Nganjuk, Abdul Wakid mengatakan, razia ditujukan untuk menertibkan banyaknya saluran air menggunakan gorong-gorong yang dibuat sejumlah warga untuk mengalirkan air dari sungai widas.

Padahal, pembuatan saluran air secara sendiri-sendiri tersebut tidak diperbolehkan karena merusak konstruksi plengsengan sungai Widas dan membahayakan bila terjadi luapan air sungai Widas di musim penghujan.

"Dalam razia yang kami lakukan sedikitnya ada sekitar 150 gorong-gorong yang dibuat tanpa izin untuk mengambil air sungai. Hanya saja, para pemilik atau pembuat gorong-gorong itu pada kabur sehingga tidak sempat kami lakukan pembinaan kepada mereka," kata Abdul Wakid ditengah menggelar razia di sepanjang sungai Widas Utara Kecamatan Rejoso, Selasa (3/9/2019).

Disamping menertibkan gorong-gorong air ilegal, dikatakan Abdul Wakid, tim Gabungan Satpol PP bersama aparat kepolisian juga menertibkan diesel pompa penyedot air di sungai widas. Ini dikarenakan kegiatan penyedotan air di sungai widas melanggar kesepakatan pembagian air para petani di wilayah kecamatan Rejoso.

"Tadi ada beberapa diesel pompa air yang langsung didata siapa pemiliknya. Dan mereka langsung diberikan pembinaan dan pengertian untuk tidak melanggar kesepakatan pembagian air sawah dengan menyedot air sungai diluar waktu yang telah disepakati," ucap Abdul Wakid.

Memang, diakui Abdul Wakid, akibat berbagai tindakan kecurangan untuk mendapatkan air yang dilakukan oleh sejumlah petani telah berdampak pada kekurangan pasokan air ke irigasi di persawahan. Akibatnya, lahan seluas 700 hektar yang ada di delapan desa kesulitan air karena air di sungai Widas dari waduk Bening habis di tengah perjalanan.

Hal itu, tambah Abdul Wakid, diperparah dengan adanya hambatan material proyek pembangunan plengsengan di sungai Widas yang dikerjakan secara bersamaan di sisi kiri dan kanan.

"Namun tugas kami hanya menertibkan kebocoran air di sungai Widas, untuk pembersihkan material bangunan plengsengan sudah dilakukan oleh pelaksana proyek," tandas Abdul Wakid.

Sementara Wakil Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi juga telah mendapatkan kepastian peningkatan debit air di sungai Widas bagian utara dari pengelola Waduk Bening. Dimana pengelola Waduk Bening telah menaikkan volume air ke sungai Widas untuk mengairi area persawahan di wilayah Kecamatan Rejoso mencapai sekitar 1,8 meterkubik per detik dari sebelumnya sekitar 1,5 meterkubik per detik.

"Dari evaluasi yang dilakukan pengelola Waduk Bening dengan adanya peningkatan volume air ke sungai Widas Utara dinilai telah mencukupi kebutuhan petani delapan desa di kecamatan Rejoso," kata Kang Marhaen panggilan akrab Marhaen Djumadi.

Meski demikian, imbuh Kang Marhaen, pihak pengelola Waduk Bening akan meningkatkan kembali volume air ke sungai Widas Utara untuk memenuhi kebutuhan air petani di musim kemarau sekarang ini. Namun, peningkatan volume air tersebut tetap mengacu kepada kondisi dan situasi yang ada di lapangan. Termasuk debit air Waduk Bening sendiri di musim kemarau ini.

"Tapi yang pasti, solusi untuk memenuhi kebutuhan air dari petani di delapan desa dengan luas area persawahan mencapai sekitar 700 hektar telah dapat kami lakukan. Dengan demikian ancaman gagal panen petani semoga bisa dihindari," tutur Kang Marhaen.

Penulis: Ahmad Amru Muiz
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved