Sambang Kampung

Isi Waktu Luang, Ibu-ibu Aspol Koblen Surabaya Rintis Usaha UMKM Bidang Kuliner

Sebagian besar ibu-ibu di sini tidak bekerja. Usaha yang dijalankan ini untuk menambah atau meningkatkan perekonomian keluarga

Isi Waktu Luang, Ibu-ibu Aspol Koblen Surabaya Rintis Usaha UMKM Bidang Kuliner
surya.co.id/sugiharto
Ibu-ibu RW 09 Aspol Koblen 7 Bubutan Surabaya menunjukkan makanan dan minuman hasil dari masakan warga, Sabtu (24/8/2019). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Untuk mengisi waktu luang supaya lebih produktif, ibu-ibu RW 09 Aspol Koblen 7 Bubutan Surabaya kini mulai merintis usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di bidang kuliner, mulai dari kripik, jamu, susu jeli, hingga aneka jajanan pasar.

"Sebagian besar ibu-ibu di sini tidak bekerja. Usaha yang kami jalankan ini untuk menambah atau meningkatkan perekonomian keluarga," ungkap Eny Rahayu, kader lingkungan RW 09 Aspol Koblen 7 Bubutan.

Sementara ini, lanjutnya, memang penjualannya masih berskala kecil. Dijual apabila ada pesanan dan disebarluaskan dari mulut ke mulut.

"Kalau ada bazar kami juga sering ikut, seperti bazar sekolah atau yang di Jalan Tunjungan biasanya," ungkap Eny.

Produk makanan yang dijual, lanjutnya, diolah secara aman dan alami. Tanpa pewarna, pemanis, dan pengawet buatan.

"Di sini, banyak ibu-ibu Bhayangkari yang hobinya masak sehingga terinspirasi untuk berjualan dengan maksud bisa menambah penghasilan. Ada yang bikin kue pasar, nasi kotak, nasi kuning, keripik, dan lain-lain," ungkap Nurul Khasanah, pebisnis keripik usus.

Melalui kegiatan ini, lanjutnya, ibu-ibu yang dulu lebih suka ngerumpi, sekarang memiliki kesibukan positif.

"Saya buat dan jual keripik sekadar sebagai pekerjaan sampingan. Saya distribusikan ke beberapa toko sekitar sini. Untuk omzetnya, sekitar Rp 2,5 juta," Nurul mengatakan.

Manfaatkan Tanaman Toga Sendiri

Untuk menjalankan usahanya, ibu-ibu Kampung Aspol Bubutan Surabaya juga memanfaatkan tanaman toga miliki mereka sendiri.

Seperti Ruli Agustina, pengusaha kunir asam dan susu jeli. Untuk membuat kunir asam, Ruli memanfaatkan tanaman toga yang ia tanam sendiri.

Seperti warga kampung lainnya, Ruli juga menanam tanaman toga yang kemudian ia olah menjadi produk minuman.

"Usaha ini baru saya jalankan tiga bulan. Awalnya sekadar coba-coba, ternyata yang pesan lumayan. Dalam sebulan, saya memproduksi 80 botol kunir asam," ungkapnya.

Untuk kunir asam, kata Ruli, dibandrol Rp 5 ribu. Sementara susu jeli diberi harga Rp 7 ribu.

Penulis: Delya Octovie
Editor: Titis Jati Permata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved