Berita Tulungagung

Tulungagung Pasok 240 Ton Patin untuk Jamaah Haji Indonesia 2019, Pemkab: Jajaki untuk Menu Umroh

80 persen dari total 300 ton ikan patin yang dikirim ke Arab Saudi untuk menu jamaah haji Indonesia berasal dari Tulungagung

Tulungagung Pasok 240 Ton Patin untuk Jamaah Haji Indonesia 2019, Pemkab: Jajaki untuk Menu Umroh
surya/david yohanes
Pengolahan patin PT Delta Mina Perkasa yang ada di Dinas Perikanan Tulungagung. 

SURYA.co.id | TULUNGAGUNG - Selama pelaksanaan ibadah haji 2019, salah satu menu yang disajikan untuk jamaah haji asal Indonesia adalah ikan patin. Total kebutuhan daging patin yang dikirim dari Indonesia mencapai 300 ton, yang 80 persen atau setara 240 ton di antaranya berasal dari Kabupaten Tulungagung.

“Karena Kabupaten Tulungagung adalah penghasil patin terbesar. Wilayah lain belum ada yang menghasilkan patin sebanyak kami,” kata Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Tulungagung, Tatang Suhartono, Senin (2/9/2019).

Daging patin yang dikirim setengahnya berupa fillet, dan setengah lainnya daging potong. Pengiriman patin ke Arab Saudi itu atas permintaan Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI), Kementerian Agama dan pengusaha di Tanah Suci.

Ekspor perdana itu diharapkan menjadi langkah awal, untuk menawarkan patin Indonesia ke luar negeri.

“Setelah ibadah haji belum ada lagi permintaan. Kami sedang menjajaki untuk keperluan ibadah umroh,” sambung Tatang.

Saat di puncak produksi, pembudidaya patin Tulungagung bisa menghasilkan 50 ton per hari.

Sedangkan di masa paceklik patin seperti saat ini, produksi turun sekitar 35 ton per hari.

Selama ini, patin asal Tulungagung banyak digemari karena tidak berbau tanah, dan berwarna putih.

“Yang paling penting tidak berbau tanah itu. Karena kalau bau tanah, orang sekali makan tidak akan mau lagi mencoba,” tutur Tatang.

Saat ini ada sekitar 600 pembudidaya patin di Tulungagung, dengan luas lahan mencapai 60 hektare.

Popularitas patin bahkan sempat menggeser gurami.

Meski ada 7.000 lebih pembudidaya gurami, volume produksi masih kalah dengan patin.

Salah satu sebabnya karena masa pemeliharaan gurami yang lebih lama.

Sebelumnya, para pembudidaya gurami ini banyak yang beralih ke patin, karena menilai lebih menjanjikan.

Penulis: David Yohanes
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved