Antisipasi Fraud, Asuransi Umum Dengan Gandeng Bareskrim Polri dan Auditor Independen

“Fraud di dunia asuransi banyak ditutup- tutupi. Sehingga ini perlu menjadi perhatian. Karenanya, perusahaan asuransi umum harus melakukan antisipasi"

Antisipasi Fraud, Asuransi Umum Dengan Gandeng Bareskrim Polri dan Auditor Independen
surabaya.tribunnews.com/sri handi lestari
Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Cabang Surabaya Susilo Sriyanto (kiri) dan Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional IV Jawa Timur, Heru Cahyono (tengah) disela seminar Seminar Fraud Dalam Kasus Pengajuan Klaim Asuransi Umum di Surabaya, Selasa (27/8/2019). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Perusahaan asuransi umum saat ini rentan terhadap klaim yang diajukan secara curang atau fraud. Hal ini membuat perusahaan asuransi cukup resah, mengingat imbas dari aksi ini bisa membuat perusahaan mengalami kerugian.

Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional IV Jawa Timur, Heru Cahyono mengakui fraud ini adalah pengelabuan dengan pencurian yang agak sulit dilihat kasat mata.

“Fraud di dunia asuransi banyak ditutup- tutupi. Sehingga ini perlu menjadi perhatian. Karenanya, perusahaan asuransi umum harus melakukan antisipasi dan pencegahan agar ini tidak terus menerus terjadi,” kata Heru saat ditemui usai Seminar Fraud Dalam Kasus Pengajuan Klaim Asuransi Umum di Surabaya, Selasa (27/8/2019).

Dalam seminar yang digelar Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) itu, sempat disebutkan adanya laporan sekitar 130.000 kasus fraud di Indonesia. Namun Heru menyebutkan, OJK Regional IV Jatim belum pernah menerima laporan terkait fraud di sektor klaim asuransi tersebut.

Meski belum ada laporan, pihaknya mendorong industri asuransi umum untuk menjadikan informasi itu sebagai alarm kewaspadaan.

"Mengapa ini terjadi, apakah karena internal perusahaan atau eksternal. Harus dijadikan bahan kajian bersama,” kata Heru.

OJK juga sudah ada aturan untuk mencegah terjadinya fraud. Pertama, memaksimalkan fungsi pengendalian fraud. Ada empat pilar yang harus dilakukan. Salah satunya adalah pengawasan manajemen dengan membentuk kultur risiko, ada risk awareness yang dilakukan di internal perusahaan.

Kedua adalah dengan menyusun strategi anti fraud. Ini dengan cara mendeteksi sejak awal terhadap tertanggung. Sehingga ada strategi khusus untuk menghadapinya.

"Paling tidak meminimalisir terjadinya fraud,” ungkapnya.

Sehingga dengan langkah itu, ke depan perusahaan asuransi harus bersatu untuk memikirkan bagaimana ada track record atas tertanggung.

Halaman
12
Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved