Berita Mojokerto

Santri Meninggal Diduga Karena Penganiayaan, Ini Tanggapan Perwakilan Pihak Ponpes Mambaul Ulum

Pihak pesantren belum sempat mengetahui kronologi kejadian yang sebenarnya yang dialami oleh korban dan masih menunggu informasi dari kepolisian

Santri Meninggal Diduga Karena Penganiayaan, Ini Tanggapan Perwakilan Pihak Ponpes Mambaul Ulum
Istimewa
Suasana Pondok Pesantren Mambaul Ulum saat mengangkat jenazah korban kekerasan AR (16) ke dalam masjid, Rabu (21/8/2019). 

SURYA.co.id | MOJOKERTO - Terkait kasus kekerasan pada Rabu (21/8/2019), pihak Pondok Pesantren Mambaul Ulum, di jalan Awang Awang, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, menyatakan sikapnya melalui rilis via whatsapp.

"Pihak pesantren memohon maaf yang sebesar-besarnya atas penyampaian berita yang kurang detail, karena pihak pesantren hanya fokus pada keadaan korban agar bisa diselamatkan. Selebihnya pihak pesantren belum sempat mengetahui kronologi kejadian yang sebenarnya yang dialami oleh korban. Pondok pesantren juga menunggu informasi lebih lanjut dari pihak kepolisian atas hasil penyelidikan," ujar pihak Pondok Pesantren Mambaul Ulum, Jumat (23/8/2019).

Santri Junior Ponpes Mambaul Ulum Meninggal dengan Tengkorak Kepala Pecah, Santri Senior Diamankan

Selanjutnya, pihak pesantren menghormati proses hukum di Indonesia. Kedua belah pihak, baik dari keluarga korban dan keluarga pelaku sudah bertemu pada hari Rabu (21/8/2019), di rumah pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ulum.

Keluarga korban bisa memaafkan perbuatan pelaku, akan tetapi proses hukum ini  terus berjalan sesuai dengan undang-undang yang berlaku. 

"Pihak pesantren menanggung seluruh biaya perawatan korban di rumah sakit, akomodasi keluarga korban hingga pemakaman jenazah. Bagaimana pun pihak pesantren tidak menginginkan ini terjadi, karena di pondok pesantren tidak mungkin mengajarkan kekerasan," pungkas pihak Pondok Pesantren Mambaul Ulum.

Pada hari Selasa (20/8/2019) sekitar pukul 04.30 WIB, salah satu Pengasuh Pondok Pesantren, Anisatul Fadhilatus Sa'diyah mendapat informasi awal dari salah satu pengurus pondok yang bernama Ustadz Amir, bahwa ada santri yang bernama AR, sedang dirawat di rumah sakit umum Mojosari, Mojokerto, karena jatuh. 

Kemudian bersama Agus Ronny Makhfuddin Akbar, pengasuh pondok pesantren putra tersebut, langsung menuju rumah sakit sekitar pukul 05.00 WIB untuk melihat kondisi korban. 

"Berdasarkan hasil dari CT Scan yang telah dilakukan, Agus Makhfuddin memperoleh keterangan bahwa korban mengalami penggumpalan darah di bagian kepala belakang. Pihak pondok pesantren langsung menghubungi keluarga korban dan saat itu juga keluarga korban berangkat menuju rumah sakit," ujar pihak pondok pesantren.

Melihat kondisi korban yang sudah lemah, sekitar pukul 08.00 WIB, lanjut pihak perwakilan pondok,  pihak Rumah Sakit Umum Mojosari memberikan rujukan ke Rumah Sakit Islam (RSI) Sakinah Mojokerto.

Setelah sampai di RSI Sakinah pukul 08.30 WIB, korban mendapatkan tindakan pertolongan di IGD, namun kondisi korban semakin menurun dan pihak RSI Sakinah menyarankan untuk dirujuk ke RSUD Dr Soetomo Surabaya. Dari pihak pesantren menyetujui apapun saran dokter demi menyelamatkan korban. 

Sebelum dirujuk ke RS dr Soetomo kondisi korban semakin melemah karena denyut jantungnya mulai tidak stabil, hingga sekitar pukul 11.45 WIB korban dinyatakan meninggal dunia.

Press release dari pihak Pondok Pesantren Mambaul Ulum

Penulis: Febrianto Ramadani
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved