Berita Lamongan

Kredit Macet di Bank Daerah Lamongan Capai Rp 386 Miliar, Ini Ancaman untuk Debitur Nakal

Sepanjang sejarah selama BDL berdiri, baru sekali manajemen membawa persoalan kredit macet ke ranah hukum, yakni jalur perdata.

Kredit Macet di Bank Daerah Lamongan Capai Rp 386 Miliar, Ini Ancaman untuk Debitur Nakal
SURYA.co.id/Hanif Manshuri
Kantor Bank Daerah Lamongan (BDL) di Jalan Raya Panglima Sudirman, Kamis (22/8/2019). 

SURYA.co.id | LAMONGAN - Pernah mengalami kejayaan pada sekitar tahun 2000 hingga 2003, kini jumlah nasabah Bank Daerah Lamongan (BDL) milik Pemerintah Kabupaten Lamongan Jawa Timur menurun.

Dari angka saat itu yang mencapai 120 ribu nasabah, kini turun pada angka 112 ribu nasabah. Sementara uang yang nyantol di tangan nasabah dengan nilai kredit mencapai Rp 386 miliar.

"Yang nyantol di nasabah hanya sekitar 7 persen," kata Plt Bank Daerah Lamongan, Konaatus Zuniyati didampingi Anggota Satuan Kerja Audit Internal (SKAI), Ruswaji kepada Surya.co.id, Rabu (21/8/2019).

Problem sampai ada kredit macet itu karena debitur usahanya macet dan bahkan sampai ada yang bangkrut.

"Seperti petani yang menjadi debitur yang mengalami musibah tanamannya habis diserang hama," katanya.

Pihak BDL tetap melakukan pendekatan kepada debitur yang tidak lagi membayar karena berbagai alasan.

BDL melakukan pendekatan agar mereka yang mempunyai kewajiban membayar itu segera melunasi.

Ada cara lain yang ditempuh BDL, yakni menyerahkan ke kejaksaan atau polisi dan jika pendekatan hukum tidak ada respon, maka akan diserahkan badan lelang.

"Pendekatan, panggil kejaksaan dan polisi," katanya.

Rata-rata tenggang waktu dua tahun direspon nasabah untuk melunasinya.

"Biasanya kalau nasabah dengar akan masuk badan lelang, buru-buru melunasinya," kata Konaatus Zuniyati.

BDL tidak merasa cemas, karena soal kredit macet itu ada beberapa skenario dalam penyelesaiannya.

Sepanjang sejarah selama BDL berdiri, baru sekali manajemen membawa persoalan kredit macet ke ranah hukum, yakni jalur perdata.

"Memperdatakan pada 2014," katanya.

Itupun kasusnya karena nasabah mengajukan kredit dengan memakai nama-nama orang lain.

Ditambahkan Konaatus, meski ada kredit macet, BDL tetap bisa memberikan masukan pada pemerintah daerah melalui Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Pada 2018 target PAD dari BDL sebesar 4, 5 miliar dan 2019 naik menjadi Rp 5, 1 miliar.

Data nasabah saat ini, untuk nasabah kredit mencapai 13. 800 orang dan nasabah simpanan cukup tinggi mencapai 98.200 nasabah.

Penulis: Hanif Manshuri
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved