Merajut Perdamaian di Tanah Papua

Selidiki Dugaan Perusakan Bendera, Polisi Tak Punya Bukti Penghuni Asrama Papua Sebagai Pelakunya

Polisi lakukan penyelidikan terhadap kasus perusakan bendera di Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya. Hingga kini belum ada bukti untuk menunjuk pelaku

Selidiki Dugaan Perusakan Bendera, Polisi Tak Punya Bukti Penghuni Asrama Papua Sebagai Pelakunya
surya.co.id/fatimatuz zahro
Gubernur Khofifah, Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan, dan Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI serta pejabat Forfimda Jatim lainnya dalam acara makam malam bersama mahasiswa Papua dan BEM se-Jatim di rumah dinas Kapolda Jatim, Selasa malam (20/8/2019). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Pertemuan antara rombongan DPR RI dengan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, Rabu (21/8/2019), melahirkan beberapa rekomendasi. 

Salah satunya adalah masukan untuk memberi sanksi tegas kepada yang terbukti bersalah. 

"Kami tadi sudah berbincang dengan rombongan DPR RI yang juga merupakan Tim Pemantau Daerah Otonomi Khusus. Harapan mereka, ada proses yang bisa diakses oleh masyarakat, yang terkonfirmasi siapapun yang bersalah harus ditindak," tegas Khofifah.

Sejauh ini, berdasarkan keterangan dari Kapolda Jatim, Irjen Pol Luki Hermawan, dikatakan bahwa pihaknya sudah melakukan pemeriksaan hingga penyelidikan.

Pemeriksaan dilakukan terhadap dua orang anggota ormas dan empat warga sekitar. 

Kata Kapolda Jatim, saksi tersebut mengaku melihat ada penghuni asrama yang merusak bendera. 

"Tapi enam orang saksi ini tidak melihat wajahnya," kata Luki.

Keterangan itu lantas dikonfirmasikan dengan keterangan dari para penghuni asrama. Merka mengaku tidak tahu siapa yang melakukan perusakan bendera tersebut. 

"Sampai saat ini memang belum, atau tidak cukup bukti untuk warga Papua itu untuk kami proses penyidikan terkait dengan (perusakan) bendera," kata Luki.

Dampak dari kejadian itu dikatakan Luki ada berita dari medsos yang berujung pada kegaduhan terutama terkait ujaran bernada berita rasis dan lain-lain. Dikatakan Luki, Polda Jatim kini masih melakukan pengusutan.

"Kami masih melakukan pendalaman dan penjajakan digital. Kami butuh waktu. Namun terkait bendera kami terus (lakukan proses penyelidikan). Terkait siapa yang masang, siapa yang ngerusak, dan terkait lain-lain," tegas Luki.

Penulis: Fatimatuz Zahro
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved