Single Focus

Semua Pihak Serius Terapkan dan Kembangkan Briket Daun Kering sebagai Energi Terbarukan  

"Ada potensi yang luar biasa asal semua pihak serius mengembangkan dan menerapkannya dengan baik," kata Elieser Tarigan.

Semua Pihak Serius Terapkan dan Kembangkan Briket Daun Kering sebagai Energi Terbarukan   
surya.co.id/nuraini faiq
Elieser Tarigan, Pusat Studi Energi Terbarukan Ubaya  

SURYA.co.id | SURABAYA - Surabaya saat ini tengah mengembangkan briket daun kering di kampung-kampung. Sebagai energi terbarukan, sumber energi ini cukup menjanjikan jika dikelola dengan serius. Sebab bahan baku melimpah dan bisa membantu menata lingkungan kota.

Tidak hanya itu, ada ekonomi kerakyatan jika briket daun kering itu dikembangkan dengan serius. Namun harus dipikirkan suistabable, keberlangsungan produksi briket meningkat kebutuhan briket di Surabaya pasti banyak. Warung sate dan warung panggang melimpah di kota ini.

 "Semua harus dihitung dan direncanakan dengan baik. Ada potensi yang luar biasa asal semua pihak serius mengembangkan dan menerapkannya dengan baik," kata Elieser Tarigan, dari Pusat Energi Terbarukan Ubaya. 

Diakui Elieser bahwa selain memberi kontribusi menjaga lingkungan dari menumpuknya sampah organik, ada upaya membangun ekonomi kerakyatan. Asal briket yang dihasilkan mampu memenuhi kebutuhan arang seluruh depot sate seluruh surabaya.

Elieser melihat bahwa Beriket daun kering merupakan salah satu dari bagian energi terbarukan tipe biomassa. Tipe ini dikatakan sustainable karena berasal dari tumbuhan. Sementara tumbuhan sendiri pada dasarnya menyerap energi matahari melalui fotosintesis.

Matahari merupakan sumber energi yang sustainable. Terobosan pemanfaatan daun kering yang diubah menjadi briket dan dijadikan menjadi sumber energi atau bahan bakar idealnya sangat baik. 

Sebab daun kering merupakan “sampah” organik jikalau dibiarkan akan menjadi masalah tersendiri bagi lingkungan. Apalagi di perkotaan besar seperti Surabaya. Sampah organik yang dibiarkan membusuk akan menlepaskan gas rumah kaca.

Gas yang dilepaskan dari penumpukan sampah organik itu dalam bentuk metana ke udara. "Jika terus menumpuk dalam waktu panjang akan berpengaruh pada pemanasan global," ucap Elieser.

Secara teori nilai kalori dari briket daun kering ada pada kisaran 7.100 kal/kg, bergantung kualitasnya. Nilai kalori atau panas ini maaih lebih baik bandingkan dengan nilai kalori Gas LPG sebesar 11.900 kal/kg. 

Secara hitungan teoritis maka jumlah daun kering se Surabaya mestinya dapat memenuhi kebutuhan arang se-Surabaya. Tetapi mewujudkannya tidaklah mudah. Persoalannya adalah proses pembuatannya cukup pelik meski tidak memerlukan teknologi tinggi. 

Halaman
12
Penulis: Nuraini Faiq
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved