Single Focus

Warga Kampung Ondomohen Produksi Briket Arang dari Daun Kering, Memasak Lebih Cepat dan Hemat 

Saat ini, banyak warga mulai memanfaatkan briket arang untuk memasak. Bukan arang pada umumnya, tetapi dari olahan daun kering.

Warga Kampung Ondomohen Produksi Briket Arang dari Daun Kering, Memasak Lebih Cepat dan Hemat 
surya.co.id/ahmad zaimul haq
ENERGI ALTERNATIF - Kader lingkungan, kampung Ondomohen Magersari V menunjukkan briket arang yang berbahan dasar sampah organik, Jumat (16/8/2019). 

SURYA.co.id | SURABAYA -  Saat ini, banyak warga mulai memanfaatkan briket arang untuk memasak. Bukan arang pada umumnya, tetapi dari olahan daun kering. Bahkan, briket arang ini digadang-gadang bisa menjadi pengganti briket arang kayu.

Memasak menggunakan briket arang dari limbah sampah ternyata bisa membuat masakan matang lebih cepat. Selain itu, hanya membutuhkan briket yang tidak banyak.
Pengalaman itu diungkap Rusmiatin, warga kampung Ondomohen, Surabaya, akhir pekan lalu.

"Kemarin, ketika Hari Raya Idul Adha, kami satu kampung bakar-bakar pakai briket. Satu kilogram (kg) belum habis mulai dari jam 2 siang sampai jelang magrib," ujarnya.

Aromanya pun, lanjut Rusmiatin, tidak sangit sehingga rasanya lebih enak. "Kalau bikin sate tanpa dikipasi pun, baranya tetap terjaga," kata Rusmiatin.

Pendapat senada dilontarkan Musmulyono, warga kampung Ondomohen, sekaligus fasilitator lingkungan Ketabang. Ia mengungkapkan, briket yang terbuat dari limbah memiliki bara yang tahan lama.

"Untuk memasak air satu panci misalnya, tidak butuh waktu lama," ungkap Mus, panggilan Musmulyomo.
Selain itu, asap yang dihasilkan sangat sedikit. Kalau arang pada umumnya menghasilkan asap 50 persen, maka briket ini hanya menghasilkan 10-15 persen.

"Ada asapnya, namun sangat minim. Abunya tidak seberapa banyak. Fungsi arang kan sebenarnya untuk mengurangi asap kayu bakar. Kalau briket, lebih sedikit lagi asapnya," tutur Mus, yang sebenarnya sudah berkeinginan membuat briket arang sebelum ada pelatihan dari Pemkot April lalu.

"Ketika saya punya keinginan, ternyata dibukakan jalan, ada pelatihan. Saya sudah ada keinginan membuat briket, utamanya dari ranting dan daun-daun," katanya.

Seiring berjalannya waktu, Mus menuturkan, apabila hanya mengandalkan sampah organik ranting dan daun maka produksi briket akan sedikit.

"Kemudian kami memanfaatkan limbah arang dari pedagang sate kelapa. Sisa-sisa arang yang tidak terpakai kami manfaatkan sehingga para penjual sate juga menghasilkan nol sampah. Setiap hari kami mendapat tiga sampai empat kilo," akunya.

Dua jenis briket
Kondisi arang kelapa yang tidak terpakai itu berbentuk potongan-potongan kecil sehingga mudah untuk dihaluskan.

"Jadi kami menghasilkan dua jenis briket, yang pertama yaitu briket yang terbuat dari limbah arang dan yang dicampur limba ranting dan daun," paparnya.

Cara membuatnya, Mus merinci, limbah arang dihaluskan terlebih dahulu sampai menyerupai tepung. Kemudian dicampur tapioka.

"Setelah itu baru dicetak. Dijemur selama tiga hari untuk mengurangi kandungan airnya. Dalam satu menit, tiga orang dapat memproduksi 15 briket," lanjutnya.

Namun, sampai saat ini, pihaknya belum berani memasarkan sampai uji coba oleh DKRTH.

Penulis: Christine Ayu Nurchayanti
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved