Single Focus

Dekati PKL hingga Depot dan Restoran untuk Pasarkan Briket Daun Kering Produksi Warga

Eri menyebut, DKRTH sudah menemui penjual nasi goreng maupun sate di daerah itu. Nantinya, warga Tembok Gede memroduksi briket daun kering.

Dekati PKL hingga Depot dan Restoran untuk Pasarkan Briket Daun Kering Produksi Warga
surya.co.id/ahmad zaimul haq
ENERGI ALTERNATIF - Di bawah arahan Pemkot Surabaya, Kader lingkungan, kampung Ondomohen Magersari V membuat briket arang yang berbahan dasar sampah organik, Jumat (16/8/2019). 

TAK ingin sampah, terutama sampah organik, hanya memenuhi Tempat Pembuangan Akhir (TPA), Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) Kota Surabaya pun mencari cara memanfaatkan sampah ini, Terlebih, diketahui sampah organik ini menguasai 54,31 persen dari keseluruhan jenis sampah di Surabaya,

"Kami inginnya, jangan sampai sampah itu memenuhi TPA. Salah satunya, kita manfaatkan untuk kompos. Setelah jadi kompos, ternyata bisa dimanfaatkan jadi hal-hal lain lagi," ungkap Plt Kepala DKRTH, Eri Cahyadi, Sabtu (17/8).

Menurutnya, teman-teman kader lingkungan mengolah lagi menjadi briket arang. Jadi, warga mengolah barang yang tidak disukai, sehingga bisa dimanfaatkan untuk jadi produk dan bisa meningkatkan perekonomian warga.

Pihaknya, bahkan juga sudah mencari target potensial untuk memasarkan briket daun kering buatan warga, seperti Pedagang Kaki Lima (PKL) di daerah kampung pembuat briket itu sendiri. Satu di antaranya Tembok Gede.

Eri menyebut, DKRTH sudah menemui penjual nasi goreng maupun sate di daerah itu. Nantinya, warga Tembok Gede memroduksi briket daun kering, lalu dikumpulkan pada satu kelompok.

Selanjutnya, Pemkot Surabaya yang bertugas sebagai fasilitator dengan turun ke masyarakat dan mendata siapa saja yang membutuhkan briket daun kering.

"Penjual nasi goreng, sate, sudah kita temui. Kita tanya kalau beli briket arang kayu itu berapa harganya. Nah, briket daun kering kita antar ke mereka, kita jual dengan harga yang paling tidak sama dengan briket kayu," ujarnya.

PKL yang sudah menjajal briket daun kering hasil produksi Tembok Gede dan Babat Jerawat, lanjut Eri, beberapa penjual nasi goreng di Genteng.

Tak hanya PKL, DKRTH juga berencana memperluas penjualan briket daun kering ke depot dan supermarket. Kini, ia sedang diskusi dengan tim, soal kemungkinan pengiriman briket daun kering ke luar Jawa.

"Yang kami diskusikan mengirim ke luar Jawa, karena sudah ada yang menawarkan itu. Nanti hasil briket kita coba dulu. Ini kami masih menunggu hasil uji lab," ucapnya.

Tahap survei
Adi Candra, yang tergabung dalam Tim Pemberdayaan Masyarakat DKRTH mengatakan, mereka sedang dalam tahap survei ke beberapa supermarket untuk realisasi rencana perluasan jangkauan penjualan briket daun kering.
Ia tengah meneliti bahan, harga jual, hingga keharusan label Standar Nasional Indonesia (SNI).

"Kami dengar informasi dari kader-kader, ada beberapa supermarket yang jual briket. Nanti kami telusuri bahan dan harga jual, apakah harus ada label SNI. Syukur-syukur kalau bisa dapat bapak asuh untuk kader-kader atau wilayah yang sudah produksi," papar Adi.

Sebelum sampai tahap itu, pihaknya sudah menawarkan ke depot, seperti Sate Kelapa Ondomohen, dengan harapan produk buatan warga Genteng hasilnya bisa kembali pada warga sendiri.

"Kami mengandalkan kader dan warga, apalagi Sate Kelapa Ondomohen ini wisata kuliner sudah terkenal. Kalau bisa tercapai, bisa terjadi ekonomi berkelanjutan atau circular economy, sehingga dapat menjadi role model bagi kampung lainnya," terang Adi. (del)

Penulis: Delya Octovie
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved