Singole Focus
Alasan Kampung - kampung Berlomba Bikin Briket Arang, Tembok Gede, Genteng, dan Bubutan Beda Kemasan
"Kami ingin mengolah sampah, daripada dibuang, lebih baik dimanfaatkan menjadi produk," ujar Aseyan, Ketua RT 03 RW 02 Tembok Gede III.
Penulis: Delya Octovie | Editor: Parmin
PRODUKSI briket arang dari sampah organik, yakni daun kering, mulai dijalani beberapa kampung di Surabaya. Bahkan, ada kampung yang sudah produksi cukup banyak dan memiliki kemasan sendiri, di antaranya Tembok Gede, Genteng dan Bubutan. Sedang yang baru tahap percobaan, Dinoyo.
"Kami memang ingin mengembangkan energi alternatif dari bahan kompos. Kami ingin mengolah sampah, daripada dibuang, lebih baik dimanfaatkan menjadi produk," ujar Aseyan, Ketua RT 03 RW 02 Tembok Gede III, Bubutan, Minggu (18/8/2019).
Aseyan berharap, warga dari kampung yang mengusung konsep Kampung Pintar ini, bisa memulai produksi briket daun kering secara lebih besar.
Ia pun telah membuat sendiri alat cetak briket arangnya, dan membuat kemasan khususnya bila nanti briket daun kering dijual. Kendala yang ia dapati, daun kering yang dikumpulkan jumlahnya tak banyak.
"Kalau bisa produksi banyak, rencananya saja jual. Tetapi ini sampahnya baru saya kumpulkan dari RT, jadi tidak banyak, maksimal jadinya sepuluh kemasan," katanya.
Sementara itu, Fasilitator Lingkungan Gundih, Bubutan, Rudi Cahyono mengatakan, warganya sudah mencoba menggunakan briket daun kering untuk memasak air dan berhasil.
"Kami coba masak air sampai mendidih, butuh waktu 15 menit. Ya waktu itu mencobanya masih sedikit airnya, briket yang digunakan juga sedikit," ucapnya.
Rudi berharap, produksi briket daun kering bisa lebih masif, supaya banyak orang yang bisa memanfaatkan, minimal warga Gundih sendiri, supaya tak perlu menggunakan LPG untuk kebutuhan masak sehari-hari.
Ampas susu kedelai
Lain lagi warga Dinoyo yang baru mulai mencoba membuat briket arang dari sampah organik. Inovasi briket arang mereka justru tak banyak menggunakan daun kering, melainkan ampas susu kedelai.
"Baru proses, minggu ini mulai bikin, ini kami baru mengeringkan bahan. Kan di sini ada yang produksi susu kedelai, nah ampasnya itu kami keringkan dan diasapkan juga. Untuk daun kering tetap pakai, tapi tidak banyak," kata Ketua RT 02 RW 03 Dinoyo, Lailiana Indriawati.
Perempuan yang akrab disapa Indri ini menyebut, sebenarnya ada banyak varian bahan alam yang bisa digunakan untuk produksi briket arang, seperti sabut kelapa dan ampas kopi.
Maka dari itu, ia mencoba membuat yang unik dibanding lainnya, yakni ampas kedelai.
"Kami sempat coba sedikit membuatnya, ternyata bisa. Kami bakar juga menyala apinya. Tetapi itu baru percobaan, sehingga kami masih ingin coba produksi yang agak banyak, supaya benar-benar terlihat hasilnya," pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/briket-arang-produksi-kader-lingkungan-kampung-ondomohen-magersari-v-dibuat-memanggang-sate.jpg)