Berita Trenggalek

USAID Jajaki Pemberdayaan Perempuan di Sektor Perunggasan di Kabupaten Trenggalek

Mas Ipin berharap, kerja sama dengan program itu nantinya bisa membantu mengentaskan masalah kemiskinan di Kabupaten Trenggalek

USAID Jajaki Pemberdayaan Perempuan di Sektor Perunggasan di Kabupaten Trenggalek
SURYA.co.id/Aflahul Abidin
Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin dan Director of Human Capacity and Partnerships USAID, Thomas P Crehan berfoto bersama usai audiensi, Rabu (18/8/2019). 

SURYA.co.id | TRENGGALEK – United States Agency for International Development (USAID) menjajaki program pemberdayaan perempuan di sektor perunggasan di Kabupaten Trenggalek.

Pemberdayaan yang dimaksud, yakni pemberian keahlian, pengetahuan dan pelatihan kepada agar para perempuan lebih sukses di industri unggas.

Penjajakan ini bukan yang pertama. Sebelumnya, USAID bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Trenggalek untuk program Jadi Pengusaha Mandiri (Japri) tahun lalu.

Kerja sama yang sukses pada saat itu, membuat Kabupaten Trenggalek kembali dipilih menjadi salah satu daerah yang dijajaki untuk program lain.

Director of Human Capacity and Partnerships USAID, Thomas P Crehan mengatakan, pihaknya mendapat amanah baru dari Pemerintah Amerika dengan dana senilai 1 juta USD.

Dana tersebut akan dipakai untuk program yang sedang dijajaki tersebut. Selain Trenggalek, program juga akan menyentuh beberapa daerah lain di Jawa Timur.

“Yang ingin kami lakukan adalah memberi keahlian, pengetahuan, dan pelatihan kepada para perumpuan sehingga mereka bisa lebih sukses lagi di industri perunggasan,” kata Thomas, saat beraudiensi di Pendopo Kabupaten, Rabu (14/8/2019).

Thomas juga berterima kasih karena Pemkab Trenggalek sudah bekerja sama maksimal dengan USAID. Ia berharap, kerja sama dapat berlanjut secara maksimal.

Sementara, Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin mengatakan pemberdayaan perempuan di sektor perunggasan di Trenggalek sangat mungkin dijalankan. Karena, kebutuhan akan unggas, terutama telur dan ayam tak ada habisnya.

“Jumlah peternak unggas juga masih sedikit, yaitu sekitar 25.000 Kepala Keluarga (KK) dari total 175.000 KK warga Trenggalek. Artinya, masih sangat mungkin bisnis unggas untuk dikembangkan lagi,” kata pria yang akrab disapa Mas Ipin itu.

Mas Ipin mengingatkan, perlu adanya manajemen yang baik apabila program itu nanti berjalan. Pengelolaan limbah dari bisnis perunggasan harus baik sehingga tak mengakibatkan masalah lingkungan.

Menurut Mas Ipin, dari kerja sama sebelumnya antara USAID dan Pemkab, sekitar 80 pengusaha baru pun dihasilkan.

“Saat ini sasarannya lebih spesifik. Kalau dulu hanya anak muda, sekarang anak muda perempuan yang berada di sekitar garis kemiskinan,” tambahnya.

Mas Ipin berharap, kerja sama dengan program itu nantinya bisa membantu mengentaskan masalah kemiskinan di Kabupaten Trenggalek yang menjadi salah satu prioritas program kerjanya.

Penulis: Aflahul Abidin
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved