Masih Ada 1 Lahan dan Bangunan Belum Dibebaskan di Lokasi Pembangunan Frontage Road Wonokromo

Sebuah rumah hingga saat ini masih bertahan di areal proyek infrastruktur jalan frontage Wonokromo sisi Barat, Surabaya.

Masih Ada 1 Lahan dan Bangunan Belum Dibebaskan di Lokasi Pembangunan Frontage Road Wonokromo
SURYA.co.id/Ahmad Zaimul Haq
DIBONGKAR - Alat berat membongkar bangunan dan rumah yang berdiri di Jl. Raya Wonokromo, Surabaya, Selasa (16/7/2019). Pemerintah kota Surabaya melakukan penertiban sejumlah rumah dan bangunan milik PT KAI untuk pembangunan frontage sisi barat. 

SURYA.co.id | SURABAYA -  Sebuah rumah hingga saat ini masih bertahan di areal proyek infrastruktur jalan frontage Wonokromo sisi Barat, Surabaya.

Rumah berpagar sekaligus berpintu  harmonika itu masih tetap utuh dan belum juga dirobohkan. 

Kalau ini terjadi hingga pengaspalan frontage road itu, kasusnya bakal sama dengan frontage road Dolog sisi Barat tahun lalu. Satu rumah akan dikepung proyek frontage road hingga tahap pengaspalan.

Pantauan Surya, rumah berpagar abu-abu itu berada di sisi barat. Hampir setiap hari rumah itu terlihat kosong. Namun sesekali ada orang di rumah yang menjorok ke sisi barat tersebut.

"Tidak tahu saya. Saya tidak apa-apa soal rumah ini," kata warga yang Rabu (14/8/2019) ada di rumah tersebut.

Saat Surya ke sana, pintu harmonika rumah tersebut sedikit terbuka. 

Namun tampak tak ada aktivitas di dalam rumah ini.

Sebenarnya ada satu rumah lagi persis bersebelahan dengan rumah itu. Namun rumah itu tinggal menunggu jadwal perobohan. 

Kepala Dinas PU Bina Marga dan Pematusan Pemkot Surabaya,  Erna Purnawati menjelaskan bahwa pihaknya selalu mendapati situasi yang berbeda dalam pembebasan lahan untuk proyek jalan.

"Memang kami tinggal sisakan satu rumah. Namun itu sudah berlaku harga konsinyasi dan sudah kami titipkan ke Pengadilan," jelas Erna.

Ada yang menyebut bahwa rumah yang sisa itu masih perlu pembicaraan dengan keluarga. Mereka belum menemui kata sepakat. Pemilik rumah itu meminta harga tanah mereka Rp 25 juta per meter.

Penulis: Nuraini Faiq
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved