70 Persen Sampah di Surabaya Organik, DKRTH Gelar Pelatihan Pembuatan Briket Arang di 5 Kelurahan

70 persen sampah di Surabaya ternyata sampah organik. karena itu, DKRTH Surabaya mendorong agar itu dimanfaatkan untuk diolah jadi briket arang.

surabaya.tribunnews.com/delya oktovie
Warga menunjukkan cara membuat briket arang dari daun kering, Rabu (26/6/2019). Briket arang ini terbukti menyala lebih lama dan tidak menghasilkan asap layaknya briket arang kayu. 

SURYA.co.id, SURABAYA - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) mendorong warga kampung untuk melahirkan inovasi-inovasi terbaik sebagai solusi sampah.

Menurut Adi Candra, Tim Motivator Lingkungan Sub Bagian Pemberdayaan Masyarakat DKRTH, 70 persen sampah di Surabaya adalah sampah organik.

"Kami berharap masyarakat aktif dalam upaya reduksi sampah organik, karena sampah terbesar Surabaya 70 persen adalah organik. Nah, selama ini, masyarakat hanya kenal pemanfaatan sampah organik menjadi kompos. Tapi, ternyata, ini ada alternatif lain, yakni briket arang," jelas Adi ketika ditemui dalam acara 'Pendampingan Pemanfaatan Energi Alternatif: Briket Arang dari Sampah Organik' di Jl. Ondomohen Magersari V, Surabaya, Rabu (14/8/2019).

Bersama tim riset dari Universitas Widya Mandala Surabaya, DKRTH berusaha menggalakkan produksi briket arang yang dibuat dari daun-daun kering ini, karena dinilai lebih ramah lingkungan dibanding briket kayu.

DKRTH menggelar pembinaan untuk 60 orang dari lima kelurahan, yakni Dinoyo, Genteng, Tegalsari, Simokerto dan Bubutan, dengan harapan mendapat hasil akhir briket daun kering dengan kondisi paling ideal, dan disamakan kekuatan, bahan baku, tingkat kepadatan, hasil pembakaran, dan lain-lain.

"Produk yang dihasilkan mungkin cara awalnya beda, tapi hasil akhirnya sama. Jadi output standarnya dibuat sama untuk Kota Surabaya. Nantinya, kami akan mengupayakan dari jalur pemasaran. Pemkot akan membantu supaya briket arang buatan warga bisa dipasarkan di kedai maupun restoran di Surabaya sendiri, sehingga warga menjadi tuan di rumah sendiri," katanya.

Ia menambahkan, DKRTH sudah berkomunikasi dengan pemilik Sate Kelapa Ondomohen soal penggantian briket kayu ke briket daun kering.

Mereka mendapat respon baik karena pemilik juga menyukai briket daun kering yang disebut-sebut lebih lama menyala dibanding briket kayu.

Endang Sriwulansari, Kader Lingkungan Ondomohen, mengatakan warga sudah mencoba membuat hidangan memanfaatkan briket daun kering saat Idul Adha.

"Ternyata beda dengan briket kayu, karena tidak harus banyak mengipas-ngipas. Kalau sudah dinyalakan, bara apinya lama. Dikipasi malah cepat habis. Asapnya juga tidak banyak," terangnya.

Ia berharap, nantinya bisa memproduksi briket arang dengan skala lebih besar dan harga yang mampu bersaing dengan briket kayu, sehingga warga bisa mendapat pendapatan lebih. 

Penulis: Delya Octovie
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved