Berita Surabaya

20 Seniman Lintas Kota Ikuti Pameran 'Jangan Bung' di House of Sampoerna Surabaya

Sebanyak 20 seniman memamerkan karya mereka dalam pameran 'Jangan Bung' yang berlangsung Kamis (15/8) hingga Sabtu (7/9) di House of Sampoerna.

20 Seniman Lintas Kota Ikuti Pameran 'Jangan Bung' di House of Sampoerna Surabaya
SURYA.co.id/Sugiharto
Seorang karyawan melintas di samping lukisa yang dipamerkan di House of Sampoerna Surabaya, Rabu (14/8/2019). Pameran senirupa yang bertajuk Jangan Bung digelar mulai 15 Agustus - 7 September. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Sebanyak 20 seniman memamerkan karya mereka dalam pameran 'Jangan Bung' yang berlangsung Kamis (15/8) hingga Sabtu (7/9) di House of Sampoerna.

'Jangan Bung', ungkap Yudhit Hadi, ketua pelaksana, berangkat dari keberagaman karakteristik, latar belakang, dan asal kota para seniman yang terlibat.

"Kata 'jangan' diambil dari Bahasa Jawa yang berarti sayur. Sementara 'Bung' atau rebung berarti bambu muda," ungkap Yudith, Rabu (14/7).

Jangan bung, lanjutnya, mengandung beraneka sayuran. Sesuai dengan para seniman yang memiliki ciri khas yang berbeda.

Para seniman tersebut, Yudith mengungkapkan, berasal dari berbagai daerah mulai dari Surabaya, Madura, Solo, Bandung, dan lain sebagainya.

Mereka, lanjutnya, tidak terlibat dalam satu komunitas. Para seniman itu bertemu dalam beberapa pameran sebelumnya di kota-kota lain seperti Yogyakarta. Mereka kemudian menginisiasi kegiatan yang diadakan di Surabaya, terwjudlah pameran ini.

"Sementara bambu muda kami artikan sebagai semangat para seniman pameran yang masih berusia muda yaitu antara 20 hingga 35 tahun," papar Yudith.

Para karya yang dihadirkan, ia melanjutkan, total 30 karya dengan jenis yang beragam. Mulai dari drawing, painting, keramik, hingga instalasi.

"Untuk temanya kami sesuaikan dengan tema kemerdekaan. Mengingat bulan ini merupakan bulan kemerdekaan Indonesia. Kami bermain di media kami yaitu media seni rupa," tutur Yudith.

Nuansa perjuangan pun tampak pada salah satu karya Aris Dwi Pamudi, seniman asal Surabaya. Mengusung judul 'Punisher', Aris mencoba memberikan gambaran betapa tipisnya perbedaaan antara kebaikan dan keburukan.

Halaman
12
Penulis: Christine Ayu Nurchayanti
Editor: Adrianus Adhi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved