Pakai Uang Ratusan Pelanggan PDAM Untuk Bisnis, Warga Surabaya Dihukum 15 Bulan Penjara

Adie Soeparno divonis 15 bulan penjara karena memakai uang pembayaran air dari ratusan pelanggan PDAM untuk berbisnis.

Pakai Uang Ratusan Pelanggan PDAM Untuk Bisnis, Warga Surabaya Dihukum 15 Bulan Penjara
surabaya.tribunnews.com/samsul arifin
Terdakwa Adie Soeparno saat jalani sidang di PN Surabaya, Selasa, (13/8/2019). 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Syamsul Arifin 

SURYA.co.id | SURABAYA - Ditemani istrinya, terdakwa Adie Soeparno menunggu di Ruang Sidang Candra, Pengadilan Negeri Surabaya.

Warga Asem Jajar Surabaya ini menjalani sidang putusan di hadapan majelis hakim atas kasus dugaan penipuan

Terdakwa yang mengaku sebagai petugas penagihan PDAM Surabaya ini divonis selama satu tahun tiga bulan lantaran berhasil menipu 450 pelanggan. 

Sebelum diketok palu putusan, majelis hakim mempertimbangkan hal-hal yang meringankan serta memberatkan. Hal yang memberatkan terdakwa karena merugikan masyarakat.

Sedangkan hal yang meringankan terdakwa menyesal dan mengakui perbuatannya.

"Mengadili terdakwa terbukti melakukan tindak pidana penipuan dan divonis selama satu tahun tiga bulan dan dikurangi selama masa tahanan," kata ketua majelis saat membacakan amar putusan, Selasa, (13/8/2019). 

Menanggapi putusan tersebut, terdakwa mengaku menerima lantaran hukuman tersebut lebih ringan dari tuntutan JPU Ugi Bramantyo yang menuntut terdakwa dengan hukuman dua tahun. 

Diberitakan sebelumnya, terdakwa Adi Soeparno, telah menipu 450 pelanggan PDAM di wilayah Pakal. Motifnya yaitu para pelanggan menitipkan uang pembayaran tagihan PDAM setiap bulan kepada Adi, tapi uang itu tidak diserahkan ke kantornya. Uang itu justru digunakan untuk kepentingannya pribadi.

Masalah terjadi ketika PDAM mengbah sistem pembayaran tagihan. Dari sebelumnya secara manual dan bisa dititipkan petugas menjadi sistem online.

Pelanggan yang tidak mau repot membayar dengan sistem online memilih untuk menitipkan pembayaran ke Adi. 

Dia lalu mengecek tagihan setiap pelanggan secara online kemudian menyampaikan dengan menuliskan di secarik kertas yang diserahkan ke pelanggan.

Namun, uang itu tidak langsung diserahkan ke kantornya. Dia yang membawa uang banyak tergiur. Selama tiga bulan, dia membawa uang tagihan sampai Rp 40 juta. Adi mencoba memutar uang itu agar mendapatkan uang lebih banyak dengan membuka bisnis.

Penulis: Samsul Arifin
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved