Sambang Kampung

Sambang Kampung Lawang Seketeng, Kampung Tempat Bung Karno dan Bung Tomo Salat di Surabaya

Kampung Lawang Seketeng terletak di dalam himpitan pertumbuhan Kota Surabaya.

Sambang Kampung Lawang Seketeng, Kampung Tempat Bung Karno dan Bung Tomo Salat di Surabaya
surya/fatimatuz zahro
Purwantono dan Leni Poerwaningsih dari Kelompok Sadar Wisata Langgar Dukur Kayu menunjukkan autentiknya Langgar Dukur Kayu, di Kampung Lawang Seketeng, Surabaya, Senin (12/9/2019). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Kampung Lawang Seketeng terletak dalam himpitan pertumbuhan Kota Surabaya. Namun, kampung lawas Surabaya ini menyimpan banyak jejak sejarah kemerdekaan Indonesia.

Salah satu situs bersejarah di Kampung Lawang Seketeng adalah Langgar Dukur Kayu yang terletak di Jalan Lawang Seketeng Gang IV atau Gang Ponten RT 6 RW 15 Kelurahan Peneleh Kecamatan Genteng. Langgar yang berdiri pada Januari 1893 ini baru saja ditemukan oleh para komunitas pemerhati sejarah tahun 2018 lalu.

Kondisinya saat ditemukan Langgar Dukur Kayu ini cukup kurang kusam. Sebab, warga setempat mulanya tidak tahu jika langgar kayu tersebut adalah situs cagar budaya yang memiliki nilai sejarah, sehingga hanya dirawat seadanya.

Namun, situs sejarah Langgar Dukur Kayu yang berluas bangunan 39 meter persegi kini sudah berubah wujud.

Kini langgar yang kerap dijadikan tempat merumuskan strategi merebut kemerdekaan oleh Bung Karno dan juga Bung Tomo ini sudah tampak bersih, cantik dan juga diubah warnanya menjadi putih.

Situs bersejarah ini bahkan sudah mulai didatangi oleh sejumlah wisatawan yang ingin mengulik sejarah kampung lawas Lawang Seketeng.

Saat Surya Sambang Kampung Lawang Seketeng, Langgar Dukur Kayu ternyata terdiri dari dua bagian.

Lantai pertama terdiri dari ruang kosong, sedangkan lantai dua baru adalah tempat ibadah.

"Lantai bawah itu yang digunakan Bung Karno dan juga Bung Tomo untuk merumuskan strategi merebut kemerdekaan. Setelah rapat baru ke atas untuk salat," kata Purwantono, Sekretaris Kelompok Sadar Wisata Langgar Dukur Kayu.

Di bagian atas, suasana yang dirasakan tetap khas bangunan lawas.

Halaman
1234
Penulis: Fatimatuz Zahro
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved