Prihatin Orang Tua Sekolahkan Saudara-saudaranya, Muhammad Fauzi Dirikan PAUD dan TK Gratis

Fauzi menceritakan, proses pendirian perpustakaan dan sekolahnya tidak berjalan dengan mudah. Apalagi ia hanya bekerja sebagai penjual jamu keliling

Prihatin Orang Tua Sekolahkan Saudara-saudaranya, Muhammad Fauzi Dirikan PAUD dan TK Gratis
SURYA.co.id/Danendra Kusumawardana
Muhammad Fauzi tengah merapikan buku di rak yang berada di sudut ruangan perpustakaan 

SURYA.co.id - Berawal dari rasa keprihatinan melihat orang tuanya bersusah payah menyekolahkan saudara-saudaranya, mendorong Muhammad Fauzi (37) mendirikan perpustakaan, PAUD dan TK gratis.

Prihatin Orang Tua Sekolahkan Saudara-saudaranya, Muhammad Fauzi Dirikan PAUD dan TK Gratis

Fauzi menyulap ruang tamu dan ruang keluarga rumahnya di Desa Sukorejo, Buduran, Sidoarjo, menjadi perpustakaan, PAUD dan TK. Ia mendirikan perpustakaan pada 2011, lalu PAUD 2014 dan TK pada 2016.

“Karena saya merasakan betapa berat orang tua saya memikul biaya sekolah anak-anaknya. Saya anak pertama dari 10 saudara. Pekerjaan orang tua saya berdagang sayur keliling yang pendapatannya tak menentu. Saya sendiri hanya lulusan SMP,” kata Fauzi, Minggu (11/8/2019).

Fauzi menceritakan, proses pendirian perpustakaan dan sekolah tentu tidak berjalan dengan mudah. Apalagi ia hanya bekerja sebagai penjual jamu keliling yang pendapatannya hanya sekitar Rp 100.000 per hari.

“Setiap hari saya menyisihkan uang untuk membeli buku. Seminggu atau dua minggu sekali harus ada anggaran Rp 200.000 dari hasil dari jualan jamu. Pertama koleksinya hanya ada 37 buku. Di antaranya terdiri dari buku pelajaran dan cerita anak. Namun, saat ini sudah banyak donatur yang menyumbangkan buku. Kini koleksi buku Yayasan Bustanul Hikmah sekitar 5.000 buku,” sebut pria berambut gondrong ini.

Sebelumnya, Fauzi juga membuat perpustakaan keliling. Dia membawa buku-buku koleksinya saat berdagang jamu. Sembari berjualan, Fauzi menyodorkan buku koleksinya kepada pelanggan.

Namun, kini ia telah memiliki relawan untuk menjalankan perpustakaan kelilingnya. Buku tersebut juga tak dibawa dengan rombong jamu, melainkan dengan motor boks roda tiga. Motor boks tersebut merupakan hasil menang lomba dari sebuah perusahaan mobil.

Fauzi juga menitipkan buku koleksinya ke sejumlah warung kopi dan pos kamling di sejumlah tempat. Dia tak takut buku koleksinya hilang karena banyak donatur yang menyumbang buku dan harganya tak seberapa. Dia juga ikhlas, karena misinya ingin menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk gemar membaca.

Sekolah TK dan PAUD yang didirikannya berbasis swadaya, tak 100 persen gratis. Siswa yang mampu membayar tetap harus membayar, meski suka rela.

Sekolah gratis hanya untuk warga yang benar-benar tak mampu. Bahkan buku dan seragam juga gratis.

Penulis: Danendra Kusumawardana
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved