Berita Surabaya

Film Impian Sejak Kuliah, Hanung Bramantyo Berkisah Film 'Bumi Manusia'

Hanung Bramantyo: Ketika masih kuliah, saya pernah menghadap beliau (Pramoedya) untuk izin menggarap film dari bukunya. Namun tidak mendapat ijin.

Film Impian Sejak Kuliah, Hanung Bramantyo Berkisah Film 'Bumi Manusia'
SURYA.co.id/Ahmad Zaimul Haq
MERIAH - Sutradara film Bumi Manusia, Hanung Bramantyo (tengah) naik Jeep Willys saat hadir pada gala premier (pemutaran pertama) film yang kisahnya diangkat dari dua novel berjudul sama tulisan sastrawan Pramoedya Ananta Toer, Perburuan dan Bumi Manusia di Surabaya Town Square (Sutos), Jumat (9/8). Gala premier dua film itu dihadiri seluruh artis pendukung, sutradara, produser dan artis pendukung film yang lain dari Falcon Pictures. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Film 'Bumi Manusia' resmi melangsungkan gala premier di Surabaya Town Square, Sabtu (10/8/2019) malam.

Dibalik euforia penyambutannya, sang sutradara, Hanung Bramantyo berkisah bahwa film yang diadaptasi dari novel sastra karya Pramoedya Ananta Toer ini merupakan film yang telah ia impikan sejak duduk di bangku kuliah.

Pernah mengalami penolakan dari pengarangnya, Hanung mengisahkan perjalanan panjangnya sampai film ini resmi dirilis pada Kamis (15/8/2019) mendatang.

"Ketika masih kuliah, saya pernah menghadap beliau (Pramoedya) untuk izin menggarap film dari bukunya. Namun tidak mendapat ijin," ungkap Hanung, dini hari seusai gala premier film Bumi Manusia dan Perburuan.

Setelah itu, lanjut Hanung, ia mengikhlaskan keinginan tersebut dan tidak lagi memikirkan untuk menggarap film Bumi Manusia.

"Namun, tiba-tiba Falcon menghubungi saya untuk (menggarap) film yang sudah lama saya impikan ini," ungkapnya mengenang.

Proses syuting yang panjang, lanjutnya, akhirnya menjadi film yang akan segera ditonton masyarakat Indonesia ini.

Di antara sekian banyak karakter, Hanung mengungkapkan dirinya paling menyukai tokoh Nyai Ontosoroh (diperankan oleh Sha Ine Febriyanti).

Nyai Ontosoroh dikisahkan sebagai perempuan yang tegas dan berprinsip. Tokoh yang memiliki nama asli Sanikem ini merupakan gundik yang dijual ayahnya kepada pengusaha Belanda.

Panggilan Nyai, saat itu, dianggap sebagai perempuan tak bernorma karena statusnya yang merupakan istri simpanan.

Halaman
12
Penulis: Christine Ayu Nurchayanti
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved