Ortu Siswa SD Diminta Ganti Rugi Rp1 juta Karena Merusak Papan Tulis di Sekolah

Dengan pekerjaan sebagai buruh tani, orangtua siswa itu kesulitan membayar ganti rugi dan kalang kabut mencari pinjaman.

Penulis: Doni Prasetyo | Editor: Eben Haezer Panca
surabaya.tribunnews.com/doni prasetyo
SDN Widorokandang, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan 

SURYA.co.id | MAGETAN - Orangtua seorang siswa SD di SDN Widorokandang, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan, diminta ganti rugi Rp1 juta karena anaknya itu tanpa sengaja merusak papan tulis di kelas. 

Dengan pekerjaan sebagai buruh tani, orangtua siswa itu kesulitan membayar ganti rugi dan kalang kabut mencari pinjaman. 

Ceritanya, papan tulis itu rusak setelah siswa SD kelas 4 tersebut bermain-main dengan temannya dan tanpa sengaja membuat papan tulis patah. 

"Saya sudah dipanggil ke sekolah, dan saya sudah minta maaf, juga minta keringanan biaya pengganti papan tulis yang rusak itu. Kalau sesuai yang diminta sekolah, kami jelas keberatan,"kata Sukir, orangtua wali murid yang dianggap merusak papan tulis itu kepada Surya, Kamis (8/8).

Namun, lanjut Sukir, pihak sekolah SDN Widorokandang bersikukuh orangtua siswa harus mengganti papan tulis senilai kalkulasi yang diberikan pihak sekolah sebesar Rp 1 juta itu.

"Katanya Kasek, tuntutan ganti rugi karena rusaknya inventaris sekolah itu untuk memberi efek jera kepada siswa lainnya agar tidak melakukan tindakan yang dilakukan anak saya,"jelas Sukir.

Menurut Sukir, papan tulis itu rusak karena ketidaksengajaan yang dilakukan anaknya saat jam istirahat pelajaran, diisi dengan becanda bersama teman kelasnya.

"Namanya anak anak, kalau sedang bermain tidak tahu bahaya atau akibat dari main mainnya itu. Jadi papan tulis itu rusak karena ketidaksengajaan,"ujar buruh tani ini.

Dikatakan Sukir, papan tulis kelas itu berlubang karena terkena penggaris, saat anaknya bermain pedang pedangan pada waktu jam istirahat pelajaran.

"Jadi bukan sengaja dirusak, dipukuli dengan benda keras atau apa. Namanya anak kelas empat, pikirannya tidak seperti anak kelas enam, yang sudah tahu akibat dari permainannya. Kalau sampai becanda menggunakan benda keras,"katanya.

Kepala SDN Widorokandang, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan Warsi, mengakui kalau sekolah tetap meminta ganti papan tulis itu, agar kegiatan belajar mengajar (KMB) tetep bisa dilaksanakan.

"Selain agar KBM tetep bisa dilaksanakan, permintaan biaya ganti papan tulis kelas itu untuk memberikan efek jera kepada siswa bersangkutan dan siswa lain,"kata Warsi singkat.

Sementara Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Suwoto belum berhasil dikonfirmasi, telepon seluler yang biasa dihubungi, tidak aktif, tidak hanya itu, Kadikpora yang hendak tidak ada di kantor.

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved