Perang Dagang Amerika dan China Buka Peluang Pertumbuhan Ekspor Furniture Indonesia

Potensi pertumbuhan ekspor furniture sedang terbuka lebar seiring perang dagang yang terjadi antara Amerika dan China belakangan ini.

Perang Dagang Amerika dan China Buka Peluang Pertumbuhan Ekspor Furniture Indonesia
surabaya.tribunnews.com/m taufik
Presiden Direktur Integra menunjukkan beberapa produk furniture yang biasa diekspor ke Amerika, Rabu (7/8/2019). 

SURYA.co.id | SIDOARJO - Potensi pertumbuhan ekspor furniture sedang terbuka lebar seiring perang dagang yang terjadi antara Amerika dan China belakangan ini.

Amerika merupakan negara pengimpor furniture terbesar, dan selama ini separo lebih furniturnya didatangkan dari China. Indonesia berada di urutan ketiga pengekspor furniture ke negara Paman Sam tersebut.

"Sebagai negara yang punya banyak bahan baku, produsen furniture Indonesia sangat berpeluang untuk menangkap peluang pasar ekspor ini," kata Halim Rusli, Presiden Direktur Integra Group, Rabu (7/8/2019).

Integra yang merupakan manufaktur terbesar di Indonesia untuk produk furniture dan building component berbahan dasar kayu, selama ini juga mayoritas produknya diekspor ke Amerika. Perbandingannya 70 persen ekspor dan sisanya di pasar domestik.

"Tentu, kami juga berusaha meningkatkan kapasitas dan produksi untuk bisa mengambil peluang pasar yang ada," lanjut owner perusahaan yang sudah berusia 30 tahun tersebut.

Dalam upayanya, tahun ini ada capital expenditure (capex) Rp250 miliar untuk meningkatkan kapasitas mesin produksi dan sebagainya. Jauh di atas capex tahun lalu sebesar Rp180 miliar.

Tentang ekspor, diungkapkan pula bahwa pertumbuhan sudah terlihat di semester awal tahun ini. Pertumbuhannya mencapai sekitar 50 persen dibanding periode sama tahun lalu sekitar 40 persen. Dan seperti biasa, semester kedua biasanya jauh lebih meningkat.

Tahun lalu, perusahaan membukukan penjualan hingga Rp 2,1 triliun. "Target kami ada pertumbuhan 20 persen dibanding tahun lalu. Dan kami yakin bisa lebih dari itu," ungkap Wang Sutrisno, Finance Director Integra.

Korporasi yang mencatatkan IPO sejak 2017 ini juga berhasil melewati tahun 2018 dengan catatan positif. Pertumbuhan penjualan bersih meningkat 21 persen dan laba bersihnya meningkat sampai Rp 41,2 persen.

Integra yang berdiri sejak tahun 1989 itu sudah berkembang menjadi tujuh perusahaan. Semua terintegrasi dalam bidang usaha yang sama, furniture dan building component.

Perusahaan juga sudah punya dua hutan di Kalimantan Timur yang luasannya mencapai 163.000 hektar sebagai sumber bahan baku. Selain itu, punya beberapa sumber bahan baku di Jawa.

"Jika dibandingkan, Jawa Masih mendominasi dengan perbandingan 30-70 persen. Kayu sengon, mahoni, dan sebagainya kita ambil dari perhutani dan sejumlah hutan rakyat di Jawa. Sementara dari hutan di Kalimantan Timur itu, lebih ke kayu keras untuk bahan baku produk-7 premium," papar dia.

Namun demikian, produsen furniture ini juga masih mengimpor bahan baku. Bukan kayu, melainkan bahan seperti engsel dan sebagainya untuk kebutuhan-kebutuhan utama produk furniture.(ufi)
 

Penulis: M Taufik
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved