Berita Jember
Respons Forkopimda terkait Reaksi Ulama Tokoh Agama Jember atas Penampilan Para Model di Arena JFC
Mereka menganggap penampilan pesohor seperti Cinta Laura, Frederika Alexis Cull, dan beberapa model mengumbar aurat.
Penulis: Sri Wahyunik | Editor: Parmin
Surya.co.id, Jember - Pagelaran Jember Fashion Carnaval (JFC)-18 tahun 2019 berbuntut pada pertemuan sejumlah pihak di Kabupaten Jember, (6/8/2019). Pertemuan yang digelar di Ruang Tamyaloka Pendapa Wahyawibawagraha itu menyusul keresahan yang muncul paska perhelatan JFC-18.
Pertemuan itu digagas oleh Forkopimda Jember antara lain Bupati, Kapolres, dan Dandim Jember. Pertemuan dipimpin oleh Bupati Jember Faida, dan dihadiri Kapolres Jember AKBP Kusworo Wibowo, sejumlah tokoh agama dan masyarakat, serta manajemen JFC.
Kapolres Jember Kusworo Wibowo membenarkan pertemuan itu merespons keresahan dan keluhan sebagian masyarakat pasca JFC, yang disampaikan baik melalui media sosial maupun secara langsung kepadanya.
Dirinya sebagai penanggungjawab keamanan Kabupaten Jember juga merasa pertemuan itu penting untuk meredam keresahan tersebut. Pertemuan itu juga untuk mengantisipasi supaya tidak terjadi aksi yang bakal digelar pada Rabu (7/8/2019).
"Penyampaian aspirasi itu boleh, dan memang sudaha da surat pemberitahuan masuk ke kami. Namun semoga dengan pertemuan ini menjadi pertemuan solutif, yang cukup memberi solusi bagi keresahan sebagian masyarakat. Pertemuan ini memang dilakukan secara mendadak meresposn keresahan yang disampaikan sebagian masyarakat Jember," ujar Kusworo.
Keresahan pasca JFC-18 bermunculan dari sejumlah warga, terutama kalangan ulama dan pesantren. Keluhan berkutat pada anggapan penampilan beberapa pesohor yang tampil di JFC-18.
Mereka menganggap penampilan pesohor seperti Cinta Laura, Frederika Alexis Cull, dan beberapa model mengumbar aurat. Aurat yang dimaksud seperti dalam bentuk mempertontonkan paha di depan publik saat karnaval.
Pertemuan itu sendiri berjalan sekitar dua jam lamanya. Wartawan tidak dibolehkan mengikuti keseluruhan pertemuan. Wartawan diberi waktu memotret di awal pertemuan, lantas diminta keluar karena pertemuan dilakukan secara tertutup oleh para pihak.
Usai pertemuan, Bupati Jember Faida mengucapkan terimakasih kepada awak media yang mau menunggu pertemuan itu. "Bukan berarti tidak boleh namun forum ini memberikan kesempatan kepada para pihak yang ingin menyampaikan sesuatu tanpa perlu khawatir. Pertemuan ini mendadak, tanpa surat resmi dan Alhamdulillah sebagian besar datang. Tidak mudah mengumpulkan para tokoh yang sibuk dalam satu forum. Pertemuan ini memang merespon keluhan, keresahan, dan saran dari sejumlah pihak," ujar Faida.
Pertemuan itu digelar memang pasca perhelatan JFC. Pertemuan itu sekaligus evaluasi atas pelaksanaan event-event di Kabupaten Jember.
"Jadi bukan semata hanya Jember Fashion Carnaval, namun juga pelaksanaan event lain di Jember. Pertemuan ini untuk pembenahan mendasar di Kabupaten Jember tentang bagaimana event-event digelar," imbuhnya. Meskipun ia mengakui pertemuan itu menjadi evaluasi bagi JFC juga.
Namun pembenahan event tidak hanya untuk JFC, tetapi juga event lain seperti gerak jalan Tanggul Jember Tradisional (Tajemtra). Saran dari beberapa tokoh antara lain, kostum atau pakaian dalam event tidak melanggar norma-norma yang dianut sebagian masyarakat Jember, juga waktu pelaksanaan tidak menabrak waktu shalat.
Sedangkan khusus untuk JFC nantinya, kostum yang dipakai oleh talent tidak boleh melanggar norma yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Jember. Tamu atau talent dari luar JFC yang tampil di JFC, kata Bupati Faida, juga harus mengikuti kesepakatan dan aturan tersebut.
Nantinya Bupati bakal membuat peraturan tentang pelaksanaan event-event di Jember. Regulasi dituangkan dalam Peraturan Bupati.
Apa yang tertuang di regulasi itu, antara lain bersumber dari masukan sejumlah tokoh yang hadir di pertemuan tersebut. "Supaya tidak menabrak norma yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Jember. Juga sebelum pelaksanaan JFC nanti ada paparan kostum yang akan dipakai, tidak harus detil namun ada komunikasi," tegasnya.
Bupati Faida juga secara tegas meminta maaf kepada semua pihak jika pagelaran JFC-18 kemarin menyakiti beberapa pihak. Bagaimanapun, lanjutnya, apa yang terjadi di Kabupaten Jember merupakan tanggungjawab kepala daerah.
"JFC memang tidak dilaksanakan oleh Pemkab Jember, namun apa yang terjadi di Jember merupakan tanggungjawab kepala daerah, saya dan Pak Wabup. Karenanya saya dan Pak Kiai (sebutan untuk Wabup Jember Abdul Muqit Arief) meminta maaf yang sebesar-besarnya. Yang baik dikatakan baik dan dijaga serta diteruskan, sedangkan yang salah ya dikatakan salah dan harus diperbaiki," tegasnya.
Sedangkan CEO JFC Suyanto juga menyampaikan permohonan maaf mewakili manajemen JFC. Menurutnya, perjalanan 18 tahun JFC belum jadi perjalanan panjang karena karnaval itu harus hidup bertahun-tahun mendatang. "Jadi kalau dalam perjalanannya ada ban yang bocor, tentunya harus ditambal. Untuk JFC kemarin, kami akui ada kelalaian, dan itu tanggungjawab saya. Karenanya kami menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat," tegas Yanto.
Sebagai tuan rumah, pihaknya menghargai tamu dari luar sekaligus sahabat yang ingin hadir dan tampil di JFC. Apalagi kehadiran para pesohor itu tidak dibayar oleh JFC.
Di sisi lain, pihak JFC mengakui kecolongan atas kostum dari beberapa pesohor. Kostum yang mereka pakai diketahui sudah mendekati hari H. Sementara para manajemen JFC sibuk pada persiapan perhelatan JFC, termasuk mengurusi para talent di internal JFC.
Kritik dan sarana kepada JFC, lanjutnya, akan selalu diterima JFC secara terbuka. Kritik dan evaluasi itu menjadi modal untuk memperbaiki pagelaran tersebut.
Dia mencontohkan di tahun 2005 silam, pihak JFC juga pernah beraudiensi dengan DPRD Jember. Ketika itu yang dipersoalkan juga perihal kostum JFC. Karena itu, Presiden JFC Dynand Fariz kala itu langsung meminta kostum talent diperhatikan mulai dari rambut sampai kaki. Istilah yang dipakai JFC adalah semua tubuh memakai busana.
"Jadi dari rambut sampai kaki berbusana, dan itu tidak mengurangi kreatifitas talent JFC dan tetap mendunia sampai hari ini. Memang kemarin ada tamu dari luar yang belum sempat berkomunikasi soal kostum. Tentunya selanjutnya kami akan menghormati kearifan lokal dan norma di sebagian besar masyarakat Jember. Adanya regulasi tidak akan mengurangi kreatifitas maupun pakem JFC," tegas Yanto.
Sedangkan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jember Halim Subahar membenarkan pertemuan itu untuk menjembatani keresahan di masyarakat akan JFC-18 kemarin.
"Namun tadi pihak JFC dan bupati sudah menyampaikan permintaan maaf secara terbuka, dan seperti itu dijamin tidak terjadi lagi di lain hari. Murni itu keteledoran JFC," ujar Halim.
Dia mengakui di beberapa kali sebelum pagelaran JFC, almarhum Dynan Fariz berkomunikasi dengan beberapa pihak termasuk bupati dan tokoh agama. KOmunikasi itu antara lain perihal defile dan kostum yang akan dipakai oleh talent JFC.
"Kemarin kecolongan tamu dari luar yang datang itu, tanpa sempat berkoordinasi. Kami harapkan tidak terjadi lagi karena kemarin itu memicu keresahan dan kemarahan beberapa pihak. Yang menarik dari pertemuan ini, nantinya ada proteksi terhadap artis luar yang tampil di Jember, proteksi itu dalam hal penggunaan kostum contohnya untuk mempertimbangkan norma, etika, dan nilai-nilai di Jember," tegasnya.
Karenanya dia menyambut baik rencana dibuatnya regulasi tentang pelaksanaan event di Kabupaten Jember.
Terkait rencana aksi yang akan dilakukan, Rabu (7/8/2019) besok, Halim berharap aksi tidak dilakukan sebab aspirasi mereka sudah diwakili oleh sejumlah tokoh, ulama, dan kiai yang hadir di pertemuan sore tersebut.
Kostum yang dipakai beberapa pesohor yang tampil di JFC-18, Minggu (4/8/2019) memicu komentar negatif dari beberapa pihak. Pesohor yang mendapat porsi sorotan cukup banyak adalah Cinta Laura.
Beberapa orang mempersoalkan kostum HUdoq yang dipakai Cinta karena mempertontonkan pahanya. Mereka juga mempersoalkan kostum panggung yang dipakai Cinta saat menyanyi 'Vida'.
Selain itu, beberapa orang juga mempersoalkan kostum yang dipakai Puteri Indonesia 2019 Frederika Alexis Cull yang juga memperlihatkan pahanya. Pun begitu dengan model prefosional yang memeragakan karya desainer Anne Avantie. Warga ada yang mempersoalkan paha sang model.
Beberapa tokoh yang hadir di pertemuan itu melihat penampilan para pesohor di JFC itu sebagai bentuk 'pornoaksi' dan 'pornografi' serta mereduksi makna Jember sebagai kota santri, kota relijius yang dikenal dengan ribuan pondok pesantren dan masjidnya.
Untuk menghindari adanya yang disebut 'pornoaksi' dan 'pornografi' itu, para tokoh itu mengusulkan adanya presentasi kostum dan defile sebelum diperagakan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/para-tokoh-rapat-forkopimda-jember.jpg)