Berita Pasuruan

Dugaan Mark Up Anggaran Dispora 2017 Kab Pasuruan, Tersangka LW Sebut  Dana juga Mengalir ke AM

Tersangka dugaan mark up anggaran kegiatan Tahun 2017 Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pasuruan, Lilik Wijaya (LW) mulai buka suara.

Dugaan Mark Up Anggaran Dispora 2017 Kab Pasuruan, Tersangka LW Sebut  Dana juga Mengalir ke AM
SURYA.co.id/Galih Lintartika
Kasi Pidsus Pasuruan Denny Saputra. 

SURYA.co.id | PASURUAN - Tersangka kasus dugaan mark up anggaran kegiatan Tahun 2017 di Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Pasuruan, Lilik Wijaya (LW) akhirnya mulai buka suara.

Melalui kuasa hukumnya, Wiwik Tri Haryati, mengatakan, kliennya ini menjadi korban. Dijelaskannya, tidak semua aliran dana hasil mark up anggaran ini digunakannya.

"Versi klien saya, AM yang notabene Kepala Dispora juga terlibat dalam kasus ini. Ikut menikmati. Ada bukti transfer dan buku catatan keuangan keluar masuk," katanya.

Dalam kasus ini, kata dia, kliennya ini adalah korbannya. Dalam arti lain, ada dalangnya. Kliennya hanya menjadi korbannya.

Sekadar diketahui, LW tidak ditahan Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Pasuruan. Ada beberapa pertimbangan, diantaranya, LW ini kooperatif saat diperiksa Jaksa, dan memberikan informasi yang mengarah ke pihak terduga lain yang terlibat dalam kasus ini.

Dalam pemeriksaan awal sebagai tersangka, LW dicecar 80 materi pertanyaan oleh jaksa. Bahkan, pemeriksaan yang dimulai sejak pukul 13.00 itu berakhir di pukul 23.00. Kurang lebih 10 jam, LW dimintai keterangan. Pemeriksaan LW masih belum selesai, kemungkinan akan ada pemeriksaan lainnya.

Kasi Pidsus Kejari Kabupaten Pasuruan Denny Saputra menambahkan, di hadapan penyidik, LW memang menyebut bahwa aliran mark up anggaran kegiatan Dispora Tahun 2017 tidak hanya ke dirinya.

"Ada yang juga mengalir ke atasannya (Mantan Kadispora, AM) serta HR rekannya. Jadi banyak pihak yang menikmatinya. Bukan hanya dirinya sendirinya. Nah, ini masih kami telusuri, karena memang sebelumnya yang bersangkutan tidak membuka sama sekali," katanya.

Denny menjelaskan, indikasi itu korupsi berjamaah semakin menguat. Kata dia, itu terbukti saat tersangka mulai membuka aliran dana ini, dan bagaimana mekanisme pencairan dan penggunaannya.

Masih menurut Denny, pihaknya masih mencari bukti - bukti tambahan untuk memperkuat alat bukti yang sudah ada. Dijelaskannya, tidak menutup kemungkinan akan ada penetapan tersangka tambahan dalam jangka waktu dekat ini.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, dalam hasil audit resmi dari Inspektorat, total kerugian negara dalam kasus korupsi massal ini sekitar Rp 918 juta. Jumlah ini lebih kecil dibandingkan hitung - hitungan sebelumnya yang mencapai angka Rp 1,1 miliar.

LW ditetapkan sebagai tersangka karena diduga terlibat dalam akal - akalan jahat di dalam kasus ini. Ia menyebut, LW berperan aktif dalam menggunakan kuasa dan jabatannya untuk memploting anggaran kegiatan.

tersangka LW mengetahui konspirasi mark up beberapa kegiatan. Contohnya, untuk kegiatan Porsadin di tahun 2017. Dalam kegiatan itu, ada beberapa anggaran yang diplot untuk sebuah kegiatan yang nilainya dilebihkan.

Dalam arti lain, plot anggaran yang dilaporkan dalam laporan keuangan itu berlebihan. Ada indikasi, dengan sengaja menaikkan harga untuk suatu kegiatan. indikasi penyalahgunaan wewenang untuk memperkaya diri sendiri itu sangat terasa.

Penulis: Galih Lintartika
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved