Kesehatan

Tak Cuma Balita dan Anak-Anak, Orang Dewasa Juga Perlu Vaksin Hepatitis A untuk Cegah KLB

Hepatitis A yang merebak dalam dua bulan terakhir di Pacitan dan Trenggalek bisa dicegah melalui imunisasi

surya/sulvi sofiana
Dari kiri : Prof Dr dr Ismoedijanto DTM&H SpA(K), Ikatan Dokter Anak Indonesia Cabang Jawa Timur, Dr dr Gatot Soegiarto SpPD-KAI FINASIM, Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia, Bapak Gito Hartono, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, dan Dr dr Dominicus Husada SpA(K), Ikatan Dokter Anak Indonesia dan Kelompok Studi Imunisasi Surabaya saat diskusi di hotel Harris Surabaya, Kamis (1/8/2019). 

SURYA.co.id | SURABAYA – Hepatitis A yang merebak dalam dua bulan terakhir di Pacitan dan Trenggalek, serta beberapa penyakit yang lain merupakan persoalan yang belum dapat diselesaikan dengan memuaskan. Padahal, Hepatitis A bisa dicegah melalui imunisasi yang sayangnya imunisasi ini belum masuk dalam imunisasi wajib yang dicanangkan pemerintah.

Kepala Seksi Surveyor dan Imunisasi Dinas Kesehatan Jatim, Gito Hartono, mengungkapkan Hepatitis A di dua wilayah tersebut telah dinyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Hingga saat ini, pihaknya masih terus melakukan upaya penanganan dan memutus rantai penyebaran virus.

“Hepatitis A menular secara oral, harusnya memotong penyebarannya melalui sumber air dan perilaku. Sayangnya di musim kemarau air sangat minim, jadi masyarakat banyak yang menghemat air dengan menggunakan jamban cemplung yang tidak higienis,” urainya dalam diskusi Kelompok Studi Imunisasi Surabaya yang diadakan Sanofi Indonesia di Hotel Harris, Kamis (1/8/2019).

Gito mengungkapkan upaya pemberian imunisasi Hepatitis A tidak bisa dilakukan di kedua daerah tersebut.

Pasalnya vaksin Hepatitis A hanya disediakan pihak swasta dan berbayar.

“Adanya juga di Surabaya, belum ada di puskesmas karena tidak disubsidi pemerintah,” sambungnya.

Upaya yang dilakukan Dinkes saat ini dengan penyediaan air bersih dan kaporitsasi pada sumber air di lingkungan warga.

Ia mengungkapkan penderita hepatitis A ini paling banyak diatas 5 tahun hingga dewasa di usia produktif.

Penderitanya didominasi laki-laki karena banyak mobilitasnya dan makan makanan yang lebih bebas dibanding lansia atau balita.

Melihat kondisi ini, Dr dr Dominicus Husada SpA(K), Ikatan Dokter Anak Indonesia dan Kelompok Studi Imunisasi Surabaya mengungkapkan imunisasi tidak hanya dimonopoli anak-anak, dewasa juga perlu.

Paling sering imunisasi yang dilakukan dewasa yaitu imunisasi untuk meningitis.

“Dengan kejadian KLB ini bisa dilihat imunisasi hepatitis juga perlu, apalagi KLB yang banyak sakit yang dewasa dan jumlah anak-anak malah sedikit,”ujarnya.

Ia menegaskan, imunisasi bermanfaat terlihat dari musnahnya tiga penyakit, yaitu cacar, rinderpest dan polio.

Dikatakan musnah karena tidak ada obatnya tapi sudah tak pernah dilihat sejak digalakkan imunisasi.

“Ada 40 penyakit yang imunisasinya ada di dunia, tetapi pemerintah hanya menyediakan 9 vaksin saja. Selain melindungi diri, vaksin juga membantu menghentikan penyebaran penyakit menular di sekitarnya,” lanjutnya.

Secara garis besar, pencapaian cakupan imunisasi bayi dan anak di Indonesia menurutnya tidak menggembirakan.

DiperIukan angka cakupan yang tinggi yaitu 90 persen atau Iebih agar melindungi individu yang bersangkutan serta keIompok masyarakat lain yang tidak diimunisasi.

“Jadi kalau ada anak tidak diimunisasi bukan karena naaknya kebal, tapi karena lingkungannya banyak yang diimunisasi jadi tidak ada penyakit menular ke si anak yang belum di vaksin,” urainya.

Ia pun berharap kerja sama semua pihak.

"Termasuk dengan masyarakat yang merupakan konsumen utama imunisasi sebagai keharusan," pungkasnya.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved