Berita Bangkalan

Pesisir Utara Bangkalan, Lumbung Besar Penyerap dan Penyimpan Karbon

Hamparan ekosistem mangrove seluas lebih dari 100 hektare (ha) membentang di dua desa di Kecamatan Sepulu

surya.co.id/ahmad faisol
Wisatawan asing tengah menikmati Taman Pendidikan Mangrove di Desa Labuhan Kecamatan Sepulu Kabupaten Bangkalan, awal tahun 2018 

SURYA.co.id | BANGKALAN - Memiliki fungsi ekologis sebagai penyerap dan penyimpan karbon, hutan mangrove merupakan salah satu ekosistem terpenting dalam sistem ekologi di daerah pantai Indonesia.

Di pesisir utara Kabupaten Bangkalan, hamparan ekosistem mangrove seluas lebih dari 100 hektare (ha) membentang di dua desa di Kecamatan Sepulu, Desa Labuhan seluas 8 ha dan Lembung Paseser seluas 95 ha.

"Dari semua hutan, baik hutan tropis atau lainnya, mangrove merupakan penyimpan karbon terbesar," ungkap Dosen Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan (MSP) Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Dr Firman Farid Muhsoni, SPi, MSc, Selasa (30/7/2019).

Di pesisir Desa Lembung Peseser, ternyata menyimpan spesies mangrove langka di Indonesia bahkan dunia, yakni Ceriops Decandra.

Ekologinya tumbuh rapat alami dan nampak dominan di antara jenis-jenis mangrove lainnya.

Seperti Rhizophora Mucronata, Rhizophora Apiculata, Rhizophora Stylosa, Ceriops Tagal, Avicennia Marina, Avicennia Alba, Aegiceras Corniculatum, Argiceras Florirum, Bruguierra Gymnorrhiza, Lumnitzera racemosa, Sonneratia Alba, Nypa Fruticans, dan Pemphis Acidula.

Sedangkan di hutan mangrove di Desa Labuhan, telah berkembang sebagai Taman Pendidikan Mangrove (TPM).

Penanaman sedikitnya 10 ribu bibit mangrove dimulai pada 2013.

Vegetasi mangrove yang tumbuh subur di TPM antara lain Sonneratia Alba (Prapat), Rizhophora Stylosa, Stenggi, Rhizopora Apiculata, Sonneratia Alba, Rhizophora Mucronata, Ceriops Tagal, Avicenna Marina, hingga Cemara Casuarina.

TPM telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi di bawah pengawasan Badan Pengelola Hutan Mangrorve (BPHM) Wilayah I Bali.

Firman menjelaskan, pihak UTM bersama Pertamina Hulu Energy West Madura Offshore (PHE WMO) terlibat langsung dalam pengembangan TPM.

"Dua kawasan itu merupakan satu kesatuan zonasi area mangrove. Sebagai penyerap karbon, pelindung pesisir pantai dari abrasi, dan tempat perkembangbiakan ikan," jelasnya.

Ia menambahkan, jika mangrove dijadikan sebagai ekowisata, maka yang perlu diperhatikan adalah pendekatan sosio kultural masyarakat.

PHE WMO merupakan korporasi yang bergerak di sektor hulu migas dan menjadi kontraktor kontrak kerja sama dengan SKK Migas.

Launching TPM Desa Labuhan Kecamatan Sepulu akan digelar Pemkab Bangkalan pada Kamis (1/8/2019).

Penulis: Ahmad Faisol
Editor: Titis Jati Permata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved