Berita Surabaya

30 Persen Anak di Jatim Terindikasi Alami Stunting, Ini yang akan Dilakukan Wagub Emil

Wagub Emil Elestianto Dardak mengungkapkan sebanyak 30 persen anak di wilayah Jatim mengalami stunting atau kekerdilan

30 Persen Anak di Jatim Terindikasi Alami Stunting, Ini yang akan Dilakukan Wagub Emil
Kompas.com
Ilustrasi bayi stunting - Bayi Margaretha Amfotis (8 Bulan), hanya memiliki berat badan 4 kilogram saja sehingga oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), NTT, Margaretha masuk kategori bayi stunting. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Stunting masih menjadi perhatian pemerintah pusat karena mempengaruhi kualitas generasi muda. Hal ini juga menjadi perhatian Provinsi Jawa Timur, apalagi Wagub Emil Elestianto Dardak mengungkapkan sebanyak 30 persen anak di wilayah Jatim mengalami stunting atau kekerdilan, sehingga perlu mendapatkan penanganan lebih intens dari berbagai pihak.

"Angka stunting di Jatim sekitar 30 persen. Dari angka 30 persen itu, 70 persen di antaranya terindikasi mengalami keterbatasan intelektual," ungkap Wagub Emil seusai acara Sosialisai Inovasi Intervensi Aksi Cegah Stunting di Dinas Kesehatan Jatim, Selasa (30/7/2019).

Untuk mengatasi permasalahan stunting ini, Wagub Emil telah bekerja sama dengan pakar untuk tumbuh kembang dan gizi anak guna menangani stunting di 12 kabupaten/kota di Jatim yang menjadi target penanganan stunting pertama atau lotus.

"Saya coba mencari solusi di daerah Pandeglang yang mampu menurunkan angka stunting dengan cepat. Tapi ternyata di tiap daerah juga harus memberikan treatment dan pendekatan yang berbeda," lanjutnya.

Di Pandeglang, kata Emil, masalah utama warga sehingga angka stunting tinggi adalah konsumsi susu kental manis untuk anak.

Namun saat sudah disosialisasikan mengkonsumsi susu yang benar angka stunting berkurang.

Emil menuturkan pilot project yang dilakukan sebagai tindak lanjut kerja sama nanti akan melibatkan spesialis anak agar bisa mendeteksi dan menangani anak stunting dengan baik.

Selain itu, PKK juga didorong mendukung program ini.

"Dana desa bisa dimanfaatkan untuk menunjang fasilitas agar bisa mengurangi stunting di daerahnya. Itu nggak besar kok," ucapnya.

Sementara itu Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Jatim, Vitria Dewi, menambahkan dari 12 kabupaten/kota yang menjadi fokus penanganan stunting, pihaknya harus mengamati sekitar 2,8 juta anak. Tetapi saat ini baru terdata sekitar 1 juta anak.

"Agustus akan kami tuntaskan pendataannya. Pendataan ini dilakukan dengan melakukan pengamatan tumbuh kembang anak. Bukan hanya melihat tinggi dan berat badan anak, tetapi juga harus diamati lingkar kepala dan panjang badan anak juga," imbuh Vitria.

Saat ini, Dinkes Jatim telah meminta posyandu untuk segera melengkapi pemeriksaan ini untuk mendapat lebih banyak data anak yang perlu diamati.

"Posyandu sudah kami minta melengkapi pemeriksaan ini. Sebab stunting di jatim lebih tinggi dibanding provinsi lain," ujarnya.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved