Grahadi

Berita Surabaya

Sahkan Perda RUED, Khofifah Buka Ruang Investor untuk Eksplor Energi Non Fosil di Jatim

Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan DPRD Provinsi Jawa Timur mengesahkan Perda Rancangan Umum Energi Daerah (RUED) tahun 2019-2020.

Sahkan Perda RUED, Khofifah Buka Ruang Investor untuk Eksplor Energi Non Fosil di Jatim
SURYA.co.id/Fatimatuz Zahro
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa 

SURYA.CO.ID | SURABAYA - Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan DPRD Provinsi Jawa Timur mengesahkan Perda Rancangan Umum Energi Daerah (RUED) tahun 2019-2020.

Untuk itu kini Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Timur tengah membuka pintu lebar-lebar bagi investor yang ingin mengeksplor potensi energi khususnya non fosil di Jawa Timur.

Dengan begitu, harapannya Pemerintah Provinsi Jawa Timur bisa menambah produksi energi non fosil di Jawa Timur. Target terdekat di tahun 2025 mendatang, energi non fosil di Jatim bisa mencapai 16,8 persen.

"Untuk energi non fosil, kita memang sedang menggalakkan bahkan agak banyak yang saya minta untuk berinvestasi karena sebenarnya tidak besar, tapi kita butuh agak banyak titik, apakah untuk sampah basah ataukah sampah plastik," kata Khofifah, usai penandatangan pengesahan Perda RUED Jawa Timur 2019-2020, Jumat (26/7/2019).

Pasalnya Jatim memiliki potensi energi terbarukan yang cukup besar. Antara lain energi panas bumi yang tersebar  di 11 titik diantaranya di Gunung Welirang, Gunung Semeru, Gunung Wilis, Gunung Ijen, Gunung Bromo, dan sejumlah gunung yang lain.

Selain itu yang juga ingin dikembangkan Khofifah adalah produksi listrik dari sampah. Terkait produksi listrik dari sampah, bahkan di Surabaya sudah ada pembangkit listrik tenaga sampah yang sudah dijual ke PLN dengan kapasitas daya 1,8 Mega Watt.

Untuk itu, pengembangan energi listrik dari sampah dikatakan Khofifah tengah getol dikembangkan. Dalam waktu dekat, mantan Menteri Sosial ini bakal menggaet ITS untuk menciptakan mesin pengolah samlah plastik menjadi energi listrik. Mesin itu diharapkan Khofifah bisa mengadopsi sistem yang dikembangkan salah satu pabrik kertas di Mojokerto.

"Kita akan komunikasikan dengan ITS untuk membuatkan sparepart nya. Seperti halnya yang ada di Mojokerto mengubah sampah plastik ke energi listrik. Kalau ITS yang siapkan, maka ketika butuh mesin lagi, maka akan mudah mencari dan murah juga cepat," keta Khofifah.

Dengan pengembangan energi listrik dari sampah menurutnya akan mengatasi dua masalah. Pertama masalah lingkungan kedua masalah pemenuhan kebutuhan listrik.

Lebih lanjut terkait pengembangan energi non fosil lain dengan menggaet investor, dikatakan Khofifah Dinas ESDM dan Dinas Penanaman Modal - PTSP Jatim akan lebih banyak bergerak.

Dua OPD itu akan berkoordinasi dan membuat exercize terkait potensi energi non fosil di Jatim dan energi fosil di Jatim. Hitungan itu yang nantinya akan menjadi acuan untuk menggandeng investor mengembangkan energi non fosil di Jatim.

"Timeline nya sebenarnya sudah ada di lampiran Perda RUED. Maka saya sampaikan bahwa ini adalah tugass bersama untuk mengawal supaya apa yang sudah menjadi target RUED 2019-2025 itu bisa kita capai.

Terkait tahapan, maksimalisasi kapan satu sumber energi, fosil di ekspolorasi dan titik mana kita akan lihat keseimbangan daya dukung alam kita dan juga dari Rencana Umum Energi Nasional," tegasnya.

Penulis: Fatimatuz Zahro
Editor: Adrianus Adhi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved