Berita Malang Raya

Gunung Panderman Terbakar, Rantai Makanan Terputus dan Debit Sumber Mata Air Berkurang

Menurutnya yang terlihat lagi adalah debit air berkurang. Karena tidak ada pohon yang bisa menyimpan simpanan air.

Gunung Panderman Terbakar, Rantai Makanan Terputus dan Debit Sumber Mata Air Berkurang
surya.co.id/istimewa
Tim BPBD dan tim gabungan memadamkan api di hutan Gunung Panderman Kota Batu sampai Kamis (25/7/2019) dini hari. 

SURYA.co.id | BATU - Kebakaran hutan di Gunung Panderman menimbulkan banyak permasalahan.

Di antaranya rantai makanan akan terputus, debit dari sumber mata air akan berkurang.

Seperti yang diketahui jumlah lahan yang terbakar ada 70 hektare.

Supervisor Wisata Perhutani Malang, Nanang Wahadi mengatakan semisal rantai makanan ular makan katak dan tikus akan hilang.

"Itu dampak yang paling terlihat. Sewaktu pemadaman api di hutan tidak ada hewan apapun di sana. Tidak ada yang mati, kemungkinan mereka migrasi," kata Nanang, Jumat (26/7/2019).

Menurutnya yang terlihat lagi adalah debit air berkurang. Karena tidak ada pohon yang bisa menyimpan simpanan air.

Hal itu yang diantisipasi oleh pihak Perhutani.

Mencegah terjadinya hutan gundul, agar tetap ada oksigen.

"Banyak dampaknya pasca kebakaran hutan, nah yang kami perbuat saat ini adalah edukasi ke masyarakat," imbuhnya.

Sementara itu, sampai hari ini kondisi kebakaran hutan dari lokasi di bawah Curah Banteng sampai Puncak Gunung Panderman, nihil titik api.

Kasi Kedaruratan dan Kebencanaan BPBD Batu Achmad Choirur Rohim mengatakan masih ada titik api di ketinggian 2011 mdpl.

Pemadaman secara manual telah dilakukan dan titik api sudah terkondisikan.

"Tim sudah menuju lokasi untuk pemadaman. Kalaupun sudah betul-betul padam tetap kami menuju lokasi. Untuk menimbun bekas terbakar. Agar dipastikan api-api betul padam," kata Rohim.

Penulis: Sany Eka Putri
Editor: Titis Jati Permata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved