Berita Ngawi

45 Desa di Kabupaten Ngawi Alami Kekeringan, Berburu Air Bersih Warga Berjalan Hingga Kiloan Meter

Sejak memasuki musim kemarau sebulan lalu, warga di 45 desa di 10 kecamatan dari 19 kecamatan di Kabupaten Ngawi mengalami krisis air bersih

45 Desa di Kabupaten Ngawi Alami Kekeringan, Berburu Air Bersih Warga Berjalan Hingga Kiloan Meter
SURYA.co.id/Doni Prasetyo
Warga Desa Papungan, Kecamatan Pitu, Kabupaten Ngawi, setiap pagi dan sore hari berbondong-bondong menenteng jirigen, ember dan kendil, berjalan kaki hingga tiga kilometer memasuki hutan gundul untuk mencari sumber mata air yang masih keluar. 

SURYA.co.id | NGAWI - Sejak memasuki musim kemarau sebulan lalu, warga di 45 desa di 10 kecamatan dari 19 kecamatan di Kabupaten Ngawi mengalami krisis air bersih. Akibatnya, warga di desa-desa itu harus berjalan dua hingga tiga kilometer memasuki hutan gundul untuk mencari sumber air.

Di desa-desa itu, dalam dua bulan ini tidak hanya sumur yang mengalami kekeringan, sungai yang melewati desa setempat juga terlihat kering.

Bahkan sungai-sungai itu sudah kering lebih awal dari sumber air milik warga setempat.

Dari 45 desa yang berada di wilayah 10 kecamatan di Kabupaten Ngawi, terparah krisis air di musim kemarau ini berada di delapan desa di empat kecamatan, yakni Kecamatan Bringin, Padas, Pitu dan Karanganyar.

Gundulnya hutan jati di wilayah Kabupaten Ngawi rupanya mengakibatkan hilangnya sumber mata air disekitar hutan dan kampung-kampung setempat.

Seperti dialami warga Desa Papungan, Kecamatan Pitu, Kabupaten Ngawi. Warga di Desa Papungan ini mulai kesulitan mendapatkan air bersih untuk keperluan hidup sehari-hari sejak dua bulan lalu.

Untuk mendapatkan setimba air bersih, warga harus berjuang berjalan kaki menyusuri sungai dan hutan yang masih tersisa sumber mata airnya. Air di hutan dan sungai itu sedianya untuk masak dan minum sehari-hari.

Jika siang hari, setelah berjalan berkilo-kilo meter belum mendapatkan sumber mata air bersih untuk memasak dan minum, malam harinya mereka kembali lagi dengan berjalan hingga tiga kilometer menyusuri sungai dan hutan gundul setempat.

"Kalau pagi saya ngantri selain matahari belum terik, orang yang ngangsu' (ambil air) juga belum banyak juga. Sehingga peluang mendapatkan air bersih ada," kata Mariana, salh seorang warga Desa/Kecamatan Pitu, Kabupaten Ngawi kepada Surya.co.id, Sabtu (27/7/2019).

Kasi Kedaruratan BPBD Kabupaten Ngawi, Wihaji Yudono menyebutkan, krisis air di 45 desa di 10 wilayah kecamatan yang ada itu hampir terjadi setiap tahun. Krisis air yang setiap tahun semakin meluas desa yang mengalaminya, akibat gundulnya hutan jati di wilayah Ngawi.

"Jumlah sumber air di wilayah 10 kecamatan di 45 desa itu semakin berkurang. Otomatis jumlah persediaan air tanah juga semakin langka," kata Wihaji Yudono.

Menurut Wihaji, BPBD Kabupaten Ngawi sejak dua pekan lalu, secara bergilir melakukan dropping air bersih ke 45 desa di 10 wilayah kecamatan, di Kabupaten Ngawi.

"Selain dropping air bersih langsung ke desa terdampak, BPBD juga mensosialisasikan pengajuan air bersih ke pemerintah kecamatan, hingga tingkat desa. Bantuan air bersih baru di kucurkan kalau permohonan bantuan air bersih sudah diterima BPBD,"tandas Wihaji Yudono.

Penulis: Doni Prasetyo
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved