Berita Lamongan

Pemuda di Lamongan terancam dengan Perda Miras, PMII Gelar Demo dan Sempat Bentrok dengan Polisi

"Kalau miras semua golongan dilegalkan, sama halnya wakil rakyat memberi virus dan racun pada generasi penerus bangsa"

Pemuda di Lamongan terancam dengan Perda Miras, PMII Gelar Demo dan Sempat Bentrok dengan Polisi
SURYA.co.id/Hanif Manshuri
Aksi demo massa PMII yang menolak Perda Miras di Gedung DPRD ricuh dan sempat bentrok dengan polisi di Lamongan, Jumat (26/7/2019). 

SURYA.co.id | LAMONGAN - Aksi puluhan aktifis yang tergabung dalam Pimpinan Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang menolak Perda Miras di Gedung DPRD ricuh, Jumat (26/7/2019).

Massa peserta aksi sempat bentrok dan saling tendang dengan anggota Sabhara yang disiagakan di pintu gerbah Gedung DPRD.

Kericuhan itu dipicu, lantaran massa tidak diperbolehkan masuk ke pelataran dedung dewan. Ternyata ada kesalahpahaman antara massa dengan personil polri yang ada di garis depan.

Massa sejatinya sudah diperbolehkan masuk, namun polisi garis depan melarang.

"Masuk..!," sergah massa.

Puluhan personil Polri langaung menghalau massa dan terjadilah bentrokan. Massa PMII tetap bertahan dan puluhan anggota Sabhara ditarik mundur.

Massa akhirnya bisa masuk, meski ada satu di antara massa peserta aksi yang kesakitan karena kena tendang petugas.

Massa akhirnya ditemui Wakil Ketua DPRD, Sa'im didampingi anggota DPRD dari FKB, Mahfudz Shodiq, Naim dan dua anggota DPRD lainnya dengan cara lesehan.

Sa'im merespon aspirasi massa dan akan dibawa dalam pembahasan dalam Pansus. Dan siang ini akan dilakukan publik hearing.

"Melalui aspirasi yang berkembang akan mempertimbagkan dan membahas. Tidak ada golongan A, B dan C. Saya perjuangkan, aspirasi anda saya bawa dan sampaikan," tegas Saim.

Bahkan dalam publik hearing yang digelar usai salat Jumat, dewan juga mengundang sesepuh NU, Muhammadiyah, LSM, perwakilan PMII dan Ormas lain

Ditantang perwakilan massa, jika tuntutan massa tidak dikabulkan, apa konsekuensinya?

Secara diplomatis Saim menjawab, kalau apa yang jadi tuntutan massa itu sejatinya belum diperdakan.

"Belum diketok palu," kata Saim.

Jadi masih ada pembahasan yang melibatkan semua elemen masyarakat.

"Para sesepuh akan datang dan memberikan masukan. Kita saling mengingatkan terus," kata Saim.

Perwakilan massa PMII tetap pada tuntutannya, agar Dewan berani membatalkan Raperda dimaksud.

"Kalau miras semua golongan dilegalkan, sama halnya wakil rakyat memberi virus dan racun pada generasi penerus bangsa," tandas Korlap Aksi, Nasihur Falahuddin.

Dewan memperkenalkan dan membebaskan Miras, dari golongan A, B dan C, lanjut Nasihur, apa dewan sudah tidak bisa berfikir waras dengan apa yang dilakukan dewan sekarang.

Generasi penerus bangsa tidak pantas melegalkan miras di Lamongan.

"Dewan tidak pantas merestui peredaran Miras," katanya.

Menurut Nasihur, kalau tetap dilanjutkan, berarti para peminpin ingin membunuh generasi penerus bangsa.

"Perda kok membebaskan segala miras jenis golongan A, B dan C," katanya.

Massa mengaku harus bertindak secara cepat,  PMII menolak peredaran semua jenis dan golongan miras di Lamongan.

Miras itu khomer dan itu haram, lanjut massa peserta aksi, apa mungkin miras dilegalkan di Lamongan. Mau diapakan Lamongan. Pemuda di Lamongan sedang terancam dengan Perda Miras.

Penulis: Hanif Manshuri
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved