Berita Surabaya

Relawan TisTas Prioritaskan Penggunaan Anggaran Rp 1,8 Trilliun untuk Siswa Putus Sekolah di Jatim

Relawan TisTas akan ditempatkan di setiap kabupaten Kota di Jawa Timur untuk menjaring anak putus sekolah

Relawan TisTas Prioritaskan Penggunaan Anggaran Rp 1,8 Trilliun untuk Siswa Putus Sekolah di Jatim
SURYA.co.id/Fatimatuz Zahro
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Hudiyono. 

SURYA.Co.id | SURABAYA - Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur bakal segera melakukan pembentukan Relawan Pendidikan Gratis Berkualitas (Relawan TisTas) guna melakukan maksimalisasi program TisTas yang digagas oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

Relawan yang rencananya bakal ditempatkan di setiap kabupaten Kota di Jawa Timur tersebut, bakal bertugas menjaring anak putus sekolah maupun yang belum mendapatkan kursi dibangku sekolah jenjang menengah atas.

Sebagaimana disampaikan oleh Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Hudiyono, ada dua kawasan yang menjadi prioritas. Yang pertama yaitu di kawasan Madura dan kedua di kawasan Tapal Kuda.

"Sebenarnya semua daerah akan disisir oleh Relawan Tistas. Anak-anak usia sekolah 16-18 tahun yang tidak terdaftar di lembaga sekolah akan kita jaring dan akan dimasukkan ke sekolah formal. Namun yang kita prioritaskan di seluruh Madura dan Tapal Kuda," kata Hudiyono, Kamis (25/7/2019).

Di Madura, menurutnya dari data yang dikantongi Pemprov, IPM terendah ada di Kabupaten Sampang dan tingkat angka paritisipasi kasarnya juga rendah.

Kultur di Madura banyak yang membolehkan anak-anaknya tidak mengenyam pendidikan sekolah dan cukup bisa salat dan mengaji.

Kesadaran akan kebutuhan pendidikan formal itu juga akan menjadi materi yang akan disosialisasikan oleh Relawan TisTas saat melakukan penyisiran.

Serta yang paling penting adalah sosialisasi bahwa pendidikan SMA/SMK di negeri maupun swasta di Jatim juga sudah gratis. Sehingga tak perlu menjadi beban pikiran orang tua maupun siswa. Ini lantaran banyak anak usia sekolah di Jatim yang juga memutuskan untuk tidak mendaftarkan diri ke sekolah lantaran kekurangan biaya.

"Yang akhirnya membuat banyak yang nikah dini usia, memutuskan untuk langsung bekerja saja. Padahal seharusnya mereka masih bisa sekolah. Sama juga di kawasan di Situbondo, Bondowoso. Itu kita ingin sisir betul sampai dapat by name by addressnya dan segera kita interfensi masukkan ke sekolah," ucap Hudiyono yang juga Kepala Biro Kesejahteraan Sosial Setdaprov Jatim ini.

Lebih lanjut, anak-anak usia sekolah tersebut bakal didata oleh Relawan Tistas dan didaftarkan ke sekolah terdekat. Bisa di sekolah swasta di tahun ajaran 2019/2020, atau jika tidak nutut lantaran tahun ajaran baru sudah dimulai, mereka akan didaftarkan di tahun ajaran mendatang.

Halaman
12
Penulis: Fatimatuz Zahro
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved